Bukan Sekadar Baca Puisi, WSFest 2026 di Banjarbaru Angkat Kabut Asap hingga Krisis Lingkungan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 09:16 WIB
PEDULI LINGKUNGAN: Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru menjadi ruang perjumpaan seni dalam Malam Imaji Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026 bertema "Rakat".
PEDULI LINGKUNGAN: Panggung Bundar Mingguraya Banjarbaru menjadi ruang perjumpaan seni dalam Malam Imaji Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026 bertema "Rakat".

‎RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Panggung Bundar Mingguraya, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berubah menjadi ruang perjumpaan seni dalam Malam Imaji Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026.

Malam tersebut menjadi salah satu rangkaian WSFest 2026 yang digelar pada 23–26 September di sembilan lokus di Kota Banjarbaru.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, WSFest mengangkat tema “Rakat”, kata dalam bahasa Banjar yang bermakna dekat, lekat, menempel, atau menyatu.

Tema tersebut tidak sekadar menjadi tajuk festival. “Rakat” dihadirkan sebagai gagasan untuk mendekatkan sastra dengan kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Sastra Merespons Kabut Asap hingga Krisis Lingkungan

Direktur WSFest Hudan Nur mengatakan, tema “Rakat” relevan dengan dinamika sosial dan kondisi lingkungan yang terjadi saat ini.

Menurutnya, berbagai persoalan seperti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, erupsi gunung, hingga kelangkaan BBM menjadi bagian dari realitas yang dapat direspons melalui karya dan perjumpaan kebudayaan.

“Kata Rakat terasa kontekstual dalam kondisi negeri yang kini banyak dilanda bencana, seperti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, erupsi Anak Gunung Krakatau, hingga kelangkaan BBM dan isu lainnya. Menghadapi kondisi itu, karya dan perjumpaan ini melahirkan beragam bentuk kepedulian dari banyak pihak,” terang Hudan Nur di lokasi acara.

Pada puncak kegiatan di Panggung Bundar Mingguraya, Malam Imaji menghadirkan tiga agenda utama. Yakni peluncuran buku, diskusi kebudayaan Obrolan Suru (Oru), serta kompetisi poetry slam.

Himpun Karya Puluhan Penulis Kalimantan

Dua buku diluncurkan dalam agenda tersebut. Salah satunya berjudul Rakat, antologi yang lahir dari program Masterclass Tingkat Nasional (MTN) yang digelar pada Mei dan Agustus 2026.

Antologi tersebut menghimpun karya 10 penulis cerpen dan 30 penyair terpilih dari berbagai wilayah di Kalimantan.

Peluncuran buku menjadi salah satu cara WSFest mempertemukan karya para penulis dengan publik sekaligus memperluas ruang apresiasi sastra di daerah.

Sementara itu, diskusi kebudayaan Obrolan Suru menghadirkan budayawan Arsad Indradi sebagai figur sentral. Diskusi juga melibatkan narasumber lintas daerah, di antaranya Musa Bastara dari Kabupaten Banjar.

Suasana malam kemudian semakin semarak melalui poetry slam. Para peserta berkompetisi menulis dan membacakan puisi secara spontan di atas panggung.

Membawa Sastra Lebih Dekat dengan Warga

Hudan menegaskan, WSFest ingin mematahkan anggapan bahwa sastra merupakan ruang eksklusif yang berjarak dari kehidupan sehari-hari.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui skema residensi. Para penulis tidak hanya berkarya dari ruang festival, tetapi juga tinggal dan berinteraksi langsung di permukiman warga yang terdampak industri dan perubahan lingkungan.

“Harapan kami jelas, sastra harus tetap mengakar di bumi Kalimantan Selatan dan membawa dampak nyata. Kami ingin sastra menjadi respons atas kegelisahan masyarakat baik isu sosial, ekonomi, hingga ekologi sehingga memicu kesadaran bersama untuk menjaga keberlangsungan kehidupan,” tegas Hudan.

WSFest Dapat Dukungan Kementerian Kebudayaan

WSFest 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Anggota Tim Penguatan Festival Sastra Kementerian Kebudayaan, Zulkifli Songyanan, mengatakan dukungan tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan festival sastra di daerah.

“Kementerian berharap festival-festival sastra yang sudah ada dapat semakin berkelanjutan dengan adanya Kementerian Kebudayaan.”

Zulkifli mengatakan Wabul Sawi menjadi salah satu festival yang mendapat dukungan penguatan di kawasan Kalimantan.

“Kalau melihat wilayahnya, untuk Kalimantan sejauh ini baru Wabul Sawi. Kemudian di Sumatera ada Balige Writers Festival dan Payakumbuh Poetry Festival,” pungkasnya.

 

Editor : Eddy Hardiyanto
WSFest Lingkungan banjarbaru