Pembelajaran pengelolaan hutan di Kitayama semakin diminati. Baru-baru tadi delegasi dari luar datang untuk belajar di sana.
Pada agenda pertama di hari kedua, delegasi itu mendatangi Kitayama Sugi Museum. Di sana mereka bertemu Sensei Dr Kieto Mineo yang menjelaskan tentang sejarah pengelolaan sumber daya alam di Jepang pada umumnya, serta pengelolaan hutan di Kitayama.
Kieto menyampaikan, pengelolaan sumber daya alam di Jepang dilakukan cukup lama: sejak ratusan tahun lalu dengan pola ekstraktif. "Bahan tambang (batu bara) saat itu menjadi andalan, sehingga kerusakan hutan menjadi tak terhindarkan," katanya.
Ia menyebut, pemanfaatan hutan di Kitayama dipengaruhi oleh budaya sejarah lama, khususnya terkait dengan pemanfaatan kayu untuk housing. "Melalui system silvikultur yang khusus pohon sugi bisa memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi sebagai kayu decorative," sebutnya.
Melalui system penanaman dengan kerapatan tinggi (5000 – 7000 per hektare), pemeliharaan melalui teknik thinning dan pengolahan kayu pasca panen yang baik juga memberikan nilai kayu dekorative yang cukup tinggi.
Lalu mereka melihat bagaimana pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat, seperti HTR di Jepang di Kitayama.
Delegasi juga menanam tanaman sejenis Sugi dengan kerapatan 5000-7000 pohon per hektare, serta perawatan pruning dan thining di akhir rotasi.
Pengolahan dilakukan di workshop sekitar hutan (community bisnis). Hasil pengolahan kayu sebagai material rumah teradisional japing, kuil dan furniture.
Pada agenda kedua di Kitayama Village, terdapat salah satu model peninggalan adat yang dikelola menjadi salah satu kunjungan wisata.
Kemudian dilanjutkan kunjungan bench marking ke hutan adat di Jepang yang dikenal “IRAI” di Miyama_Co.
Di lokasi tersebut terdapat rumah-rumah adat Jepang yang berdiri sejak ratusan tahun lalu. Rumah-rumah itu memiliki desain atap unik, karena memiliki arti khusus.
Material rumah adat tersebut terdiri dari kayu, bambu dan rumput sebagai atap, sehingga adaptif terhadap bencana gempa.
Rumah-rumah itu mendapatkan perhatian dari pemerintah Jepang dalam konteks dukungan pemeliharaan. (ris)
Editor : Arief