Sejatinya, Go Skateboarding Day diperingati tanggal 21 Juni. Namun, agar bisa diperingati dengan nyaman (tidak di hari kerja) dihelat, Minggu (26/6) tadi.
Sedari pagi, puluhan skater berkumpul di kawasan di Jalan RE Martadinata, Siring Sungai Martapura. Tepat di seberang Balai Kota.
Ketika hari mulai beranjak siang, skater bergeser ke kawasan Siring Nol Kilometer. Di situ mereka menggelar ragam kegiatan. Meramaikan Go Skateboarding Day. Dari bersilaturahmi, diskusi, hingga menggelar fun games.
Saat menampilkan kebolehan, semua skater tampak bahagia. Menikmati fasilitas serba terbatas, yang mereka buat sendiri. Dananya, ada yang hasil urunan para skater, ada pula dari donatur. Tapi, bukan dana dari pemerintah daerah.
Penulis melihat langsung fasilitas yang dimiliki. Kondisinya sudah cukup memprihatinkan. Misalnya, rintangan yang diperuntukan atraksi best trick dan longest ollie. Alas kayunya sudah banyak yang koyak. Beruntung, rangka besinya masih kuat dan bisa digunakan.
Pun demikian ketika skater ingin melakukan high ollie. Mereka, memakai papan skate yang ditumpuk hingga menghasilkan ketinggian tertentu. Sedikitnya ada delapan papan skate yang ditumpuk.
Diiringi musik, skater kembali menunjukan aksinya. Lagi-lagi, di tengah minimnya fasilitas atau sarana berlatih. Dan jangan lupa, lahan yang dipakai para skater adalah lantai Siring Sungai Martapura. Itu karena tak ada skatepark yang layak di Kota Banjarmasin.
Di sisi lain, sebenarnya tak jauh dari tempat para skater berkumpul dan menunjukan kebolehan, ada skatepark mini. Sayangnya fasiltias itu tak kunjung bisa dimanfaatkan skater.
Bukan tanpa alasan. Dilirik dari desain, skatepark yang dibuat jauh dari kata layak. Hal itu diungkapkan salah seorang skater asal Banjarmasin, M Rifansya.
"Pembuatannya, seingat saya sama sekali tak ada berkonsultasi dengan para skater. Atau meminta saran. Kami menilai sangat tidak layak. Cenderung membahayakan para skater," ungkapnya.
Pembangunan skatepark, tambah dia, sudah sering diusulkan ke pemerintah setempat. Tapi tak kunjung ada tanggapan.
Dari hasil pantauan Radar Banjarmasin, skate park mini yang berada di kawasan Siring Nol Kilometer itu memang tak kunjung bisa dimanfaatkan. Tempatnya juga tergolong sangat sempit.
Kini skatepark itu berubah fungsi. Jadi tempat para pengunjung siring untuk duduk bersantai, hingga anak-anak yang bermain perosotan.
Dikonfirmasi ke Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Senin (27/6) petang, Kepala Bidang Olahraga, Roenissa, mengatakan, pembangunan skatepark di kawasan Siring Nol Kilometer bukan dibuat pihaknya.
Terpisah, Ketua Komunitas Indonesia Skateboard (KIS) Kalsel, Firdaus, juga menuturkan keinginan yang sama seperti yang diungkapkan M Rifansya. Ia bilang, Banjarmasin memang belum memiliki tempat yang layak untuk bermain skateboard.
Go Skateboarding Day yang diperingati, menurutnya, juga sebagai ajang sosialisasi. Bahwa Banjarmasin perlu skatepark.
Lantas, skatepark seperti apa yang diinginkan? Lelaki yang saat ini menjabat sebagai Ketua Rivertown Skateboard Banjarmasin itu menyebut, mereka membutuhkan minimal skatepark seperti yang ada di Kota Banjarbaru.
"Skater di sana di-support pemerintah daerah. Karena skateboard juga termasuk olahraga prestasi. Sementara kita di sini, masih kalah bersaing. Dalam pertandingan skateboard, memerlukan tempat yang layak untuk berlatih," tuturnya.
Ia mengandaikan, sehebat apapun atlet di Banjarmasin, ketika bermain ke luar kota, misalnya ke daerah Jawa, bakalan kalah. Karena tak ada tempat untuk berlatih yang layak.
Firdaus mengungkapkan, di bulan Juli mendatang, mereka akan ke Palembang. Mewakili Kalsel dalam Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) 2022.
"Ada enam atlet yang berangkat. Berasal dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Bumbu dan Kotabaru," ucapnya.
Meski serba terbatas, ia bersama skater berkomitmen, berjuang untuk mengharumkan nama daerah. “Kami juga masih berharap ada bantuan dari pemerintah," pungkasnya. (war) Editor : Muchlisin Asy'ari