Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Selamatkan Anjal hingga Pencandu Narkoba

Arief • Selasa, 12 April 2022 | 11:01 WIB
RAWAN: Rumah warga di Desa Malinau Kecamatan Loksado rusak akibat tanah longsor, (11/11). | FOTO: BPBD HSS FOR RADAR BANJARMASIN
RAWAN: Rumah warga di Desa Malinau Kecamatan Loksado rusak akibat tanah longsor, (11/11). | FOTO: BPBD HSS FOR RADAR BANJARMASIN
Sejak didirikan, Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad berupaya menjadi pembuka jalan dan penolong umat.

PENUTUPAN: Bupati Banjar H Saidi Mansyur menutup turnamen sepak bola Piala Bupati Banjar U12 Tahun 2023 di Rahmat Mini Soccer, Tanjung Rema, Martapura, Minggu (13/8) sore. FOTO: DKISP BANJAR
PENUTUPAN: Bupati Banjar H Saidi Mansyur menutup turnamen sepak bola Piala Bupati Banjar U12 Tahun 2023 di Rahmat Mini Soccer, Tanjung Rema, Martapura, Minggu (13/8) sore. FOTO: DKISP BANJAR


Bacaan Alquran masih menggema di kawasan kompleks pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Batu Ampar, Kelurahan Cempaka, itu. Didampingi Syaifullah, penulis melihat-lihat bagaimana proses belajar mengajar di Ponpes Al Fatih Wal Imdad.

Pesan sang guru: Jangan bangun showroom, tapi bukalah bengkel. Masih terngiang jelas di benak Syaifullah.

"Insyaallah, ini bengkel yang dimaksud guru saya. Tempat di mana kita bisa 'memperbaiki' apa saja. Tanpa harus membeda-bedakan," ucap pimpinan Ponpes Al Fatih Wal Imdad, itu.

Di ponpes itu,dia menerima siapa saja yang hendak belajar ilmu agama. Tidak hanya anak-anak. Orang dewasa pun boleh belajar di situ. Tak perlu merasa segan atau merasa minder ketika belajar. Di Ponpes Al Fatih Wal Imdad, semuanya sama.

"Tak ada persyaratan khusus. Di sini, dari nol (tak punya kebisaan atau tak tahu apa-apa) pun diterima. Yang penting, ada kemauan hendak belajar," jelasnya alumni Ponpes Darunnasyiien, Jawa Timur, itu.

Penulis berkesempatan menengok ke salah satu ruangan yang berada di paling pojok, di bangunan berkelir hijau. Tempat di mana para santri belajar membaca Alquran.

Para santri tampak duduk lesehan. Berkelompok. Di depannya, ada rehal kayu. Di atasnya, santri meletakan Alquran yang dibaca.

Muhammad, seorang santri yang terlihat tidak lagi muda. Usianya rupanya sudah 28 tahun. Ia tampak asyik membaca Alquran dengan metode Iqro. Mengeja huruf demi huruf hijaiyah. Suaranya terdengar jelas dan lugas. Ia juga tak sungkan, ketika pembimbing yang jauh lebih muda darinya memintanya berkali-kali mengulang bacaannya.

Ketika diwawancarai penulis, Muhammad menjelaskan, dia berasal dari Kota Banjarmasin dan sudah setahun berada di Ponpes Al Fatih Wal Imdad."Saya senang berada di sini. Saya bisa belajar banyak ilmu agama. Saya ingin berubah, Bang," ucapnya.

Kepada penulis, Muhammad juga tak sungkan membeberkan siapa dirinya di masa lalu.

Sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, ia mengaku sudah mencari nafkah di jalanan. Untuk dirinya sendiri, dan membantu menghidupi sang nenek di rumah.

Ketika naik kelas 2, neneknya wafat. Ia hanya tinggal sendirian. Saat itu, ia pun memutuskan untuk sepenuhnya berada di jalanan. Segala pekerjaan dilakoninya. Mulai dari buruh serabutan, hingga menjadi pengamen. Itu berlangsung selama berpuluh-puluh tahun."Hasil kerja, saya pakai hanya untuk bersenang-senang. Termasuk mabuk-mabukan, Bang," tuturnya.

Hingga pada akhir tahun 2020, entah mengapa, saat itu terbesit dalam pikirannya untuk mempelajari ilmu agama. Ia merasa sudah sangat bosan dengan kehidupan di jalanan.

Dan sungguh, menurutnya, Tuhan membimbingnya pada jalan yang dikehendakinya."Saya lalu menemukan ponpes ini. Dan mulai saat itu, saya pun memutuskan belajar di sini," ungkapnya.

"Sampai sekarang, saya berharap dan terus mendoakan kawan-kawan saya yang masih berada di jalanan. Semoga mereka selalu diberikan kebaikan, keselamatan. Dan semoga suatu saat mereka juga berubah," tutupnya.

BERTRANSFORMASI: Pesantren Al Fatih Wal Imdad di Banjarbaru. Dari yang semula hanya majelis taklim dan wadah belajar membaca Alquran, kini berubah menjadi pondok pesantren yatim dhuafa dan penyembuhan korban narkoba. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Sejak bertranformasi dari yang semula hanya berupa majelis taklim dan wadah belajar membaca Alquran, Ponpes Al Fatih Wal Imdad juga mentasbihkan diri sebagai Ponpes Yatim Dhuafa dan Penyembuhan Korban Narkoba.

Di ponpes itu, semuanya terayomi. Tanpa terkecuali. Kendati demikian, untuk hal yang terakhir itu, yakni penyembuhan korban narkoba, bukan berarti santri adalah para pengguna atau pencandu narkoba.

Kepada penulis, Syaifullah menuturkan, bahwa pihaknya hanya berupaya menyembuhkan korban yang memang datang untuk disembuhkan."Urusan mereka mau jadi datang kembali atau menjadi santri, itu lain lagi. Kami berupaya untuk menyembuhkan saja," ucapnya.

Syaifullah menjelaskan, praktik penyembuhan pencandu narkoba itu, sudah dilakukan secara turun temurun di keluarganya. Dimulai dari kakeknya, hingga kini sampai pada dirinya."Ada rasa syukur dan kebahagiaan tersendiri, bila melihat orang bisa terlepas dari jeratan narkoba," ungkapnya.

Dibeberkan Syaifullah. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, dalam sepekan setidaknya ada sepuluh pasien yang datang ke Ponpes Al Fatih Wal Imdad. Tujuannya, tak lain untuk minta disembuhkan.

Namun, lantaran masih dilanda pandemi dan dahulunya ada sejumlah pembatasan, pasien yang datang pun sudah cukup berkurang. "Masih ada yang datang. Tapi hanya beberapa orang saja dalam sebulannya," ucapnya.

Dalam hal proses penyembuhan, Syaifullah menjelaskan, bahwa pihaknya hanya melakukan melalui metode pendekatan ilmu agama. Ia pun lantas merincikan bagaimana proses penyembuhan itu berlangsung.

Setidaknya, ada tiga metode yang biasa dipakai. Pertama, diminumi air yang sudah dirapalkan dengan wiridan berikut doa. Kedua, dimandikan. Dan ketiga, si pasien disuruh berendam di sungai yang airnya mengalir.

"Jadi, tidak semua pasien yang datang langsung dimandikan atau disuruh berendam. Dilihat dulu sejauh mana ketergantungannya. Kebanyakan, yang disuruh berendam itu pasien yang sudah sangat pro," jelasnya.

Bagaimana melihat ketergantungan pasien yang datang itu? Syaifullah mengaku melakukan perbincangan dengan si pasien. Layaknya keluarga, ia meminta pasien berbicara sejujur-jujurnya.

Dari awal mula mereka terjerumus, seberapa lama sudah itu berlangsung, baik menjadi pencandu bahkan mungkin bertindak sebagai pengedar, dan lain sebagainya.

"Sebelum itu, pasien yang ingin disembuhkan dari keterkaitan narkoba, juga kami tanyai. Apakah memang keinginan si pasien itu sendiri atau justru dorongan dari orang lain. Baik itu keluarga, teman, dan lain sebagainya," tekannya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Syaifullah menilai, bila berawal dari dorongan orang lain alias bukan karena keinginan ribadi, tidak menutup kemungkinan kelak pasien kembali mengulangi perbuatannya. Tepatnya, ketika tak ada lagi orang lain yang mendorong pasien untuk berubah.

Kemudian, ketika sembuh. Si pasien tidak diperkenankan mengungkit-ungkit kesalahan yang diperbuat orang lain padanya. Ambil contoh, dia membeberkan ke siapa saja, dari mana atau dari siapa narkoba itu didapatkan.

Artinya, yang sudah berlalu biarkan jadi masa lalu. Si pasien tak boleh mempermasalahkan bahkan sampai menghakimi orang lain.

"Misalnya, pasien ini ternyata dapat barang dari si B. Si pasien tak boleh sampai menceritakan keburukan si B. Termasuk, berupaya hendak melaporkan si B karena perbuatannya itu," jelasnya."Kalau itu justru dilakukan, yang timbul justru masalah nantinya. Kami tidak menginginkan hal itu," ungkapnya.

Ditekankan Syaifullah, yang pihaknya lakukan adalah menyembuhkan 'penyakit' yang diderita pasien saja. Bukan memutus mata rantainya."Memutus mata rantai itu bukan pekerjaan kami. Itu pekerjaan penegak hukum. Kami hanya membantu proses penyembuhan saja," tekannya.

"Terus terang, ada banyak orang yang sudah kami sembuhkan. Tak pernah satu pun identitas yang bersangkutan kami buka. Sekali pun yang meminta adalah pihak berwajib," ucapnya.

Ya, menurut Syaifullah, tak satu atau dua kali, pihak berwajib datang ke ponpesnya. Meminta data nama-nama mereka yang sudah berhasil disembuhkan.

"Data itu tak pernah kami berikan atau pun buka. Kami memandang, ketika ada pasien datang dan minta disembuhkan, itu saja sudah cukup. Artinya, segala hal yang berkaitan atau terlibat dengannya, habis sampai di situ. Tak perlu diungkit-ungkit lagi," tekannya.

Lantas, apa yang bisa diambil dari sekian banyak persentuhan dengan kalangan pengguna narkoba?

Syaifullah berkesimpulan, kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam narkoba lebih banyak diakibatkan karena persoalan atau masalah pribadi."Hampir 75 persen berawal dari masalah pribadi, lalu dilarikan ke sana. Kalau berawal dari pergaulan dan lingkungan memang ada, tapi tidak banyak," ungkapnya.

Diakui Syaifullah, tak sedikit pasien merasa malu untuk datang ke ponpes. Meski demikian, ia selalu menekankan bahwa ponpes bukan tempat untuk memilah atau memilih orang."Siapa pun boleh datang," tekannya.

Di sisi lain, penulis masih penasaran, bagaimana proses penyembuhan yang dilakukan Syaifullah. Khususnya, metode dengan cara disuruh berendam di sungai yang airnya mengalir itu.

Sembari tersenyum, Syaifullah menuturkan bahwa dirinya tentu tidak asal menyuruh si pasien berendam. Ada wiridan yang dibaca saat melakukan proses penyembuhan itu.

Lalu sebelum berendam, pasien juga disuruh mengecek atau memeriksakan kesehatan tubuhnya. Entah itu di klinik kesehatan, atau pun di rumah sakit.

Pemeriksaan kesehatan tubuh pasien itu juga dilakukan ketika pasien selesai mengikuti proses penyembuhan. Itu semata-mata untuk menguatkan si pasien tentang hasil penyembuhan yang didapatkan nantinya.

Saat proses penyembuhan berlangsung, menurut Syaifullah, umumnya pasien yang berendam di sungai itu merasakan hal yang aneh. Bisa ketakutan, bahkan sampai lari keluar dari sungai.

"Si pasien bilang, air sungai itu berubah jadi api. Disangkanya saya mau membakar pasien. Saya bilang, itu hanya perasaan pasien saja. Buktinya, santri-santri di sini yang juga ikut berendam menemani biasa-biasa saja," jelasnya.

Lantas, berapa lama pasien mesti berendam di sungai yang airnya mengalir itu? Tergantung kebutuhan.

Paling sebentar, membutuhkan waktu dari jam 2 malam, sampai tiba waktu subuh. Dan itu dilakoni selama minimal tiga malam berturut-turut."Selama saya melakukan penyembuhan, ada yang bahkan memerlukan waktu 15 malam. Tapi, belum ada yang sampai 40 malam. Untuk lokasinya sendiri, saya memakai sungai di kawasan Desa Batu Ampar ini," ucapnya.

Siang itu, matahari kian terik. Para santri, masih asyik dan sibuk dengan pelajaran dan bacaan Alquran-nya."Ponpes ini murni didirikan untuk membantu umat, mas. Tanpa harus memilah dan memilih," tutup Syaifullah. (war/by/ran) Editor : Arief
#Religi #inspiratif #Ekspedisi Ramadan