Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

admin • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 13:32 WIB
Dr. Ir. Akhmad Hairin, M.M., M.P
Dr. Ir. Akhmad Hairin, M.M., M.P

Oleh: Dr. Ir. Akhmad Hairin, M.M., M.P
Asisten 1 Setda Kabupaten Tanah Laut

Delapan Puluh Satu tahun yang lalu, di hari Jumat yang penuh keberkahan, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.  Perjuangan panjang dan penuh liku dari para pendahulu bangsa yang sebagian besar kaum muslimin ini, akhirnya membuahkan hasil yang gemilang.

Di bawah naungan kalimat suci “Laa ilaaha illallah”, diiringi kalimat takbir “Allahu Akbar”, mereka korbankan harta, jiwa dan raga untuk kemerdekaan ini, dan banyak diantara mereka yang gugur sebagai syuhada.  Dari perjuangan dan pengorbanan mereka-lah, akhirnya Allah swt menganugerahkan nikmat kemerdekaan kepada bangsa ini.   

Kemerdekaan adalah suatu nikmat yang sangat besar, dimana kita dapat beraktivitas dengan tenang dan damai tanpa gangguan dan kesulitan.  Biasanya orang akan merasakan nikmat ketika ia hilang dari dirinya.  Nikmat sehat akan terasa ketika sakit, nikmat kenyang akan terasa ketika lapar, demikian pula dengan nikmat kemerdekaan ini, sangat terasa setelah lama terkungkung oleh penjajahan dan penindasan.  Karenanya wajiblah bagi kita untuk mensyukurinya, dan Allah juga firmankan: “… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah (nikmat) tersebut bagimu …” (Ibrahim <14>: 7)

Pertanyaannya, bagaimana caranya mensyukuri nikmat kemerdekaan ini?  (1) Syukuri dengan hati, (2) syukuri dengan lisan dan (3) syukuri dengan amal - perbuatan.

Bersyukur dengan hati adalah mengakui secara tulus bahwa nikmat kemerdekaan ini adalah karunia Allah swt semata.  Hal ini sangat penting karena hati adalah penggerak.  Ketika hati benar-benar bersyukur dengan mengakui bahwa semua nikmat tersebut berasal dari Allah, maka akan mudah bagi lisan dan anggota badan untuk menunaikan kewajiban bersyukurnya.  Sebaliknya jika hati mengingkari, maka akan berat bagi lisan dan anggota badan untuk bersyukur.  Kalaupun bersyukur mungkin ala kadarnya saja bahkan bisa terjerumus pada kemunafikan.

Bersyukur dengan lisan adalah dengan menyebut-nyebut nikmat tersebut.  Allah swt berfirman: Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (siarkan)” (Adh-Dhuha <93>:11).

Alhamdulillah, para pendiri bangsa ini telah menyadari sejak awal, sehingga dalam teks pembukaan UUD 1945 tercantum dengan jelas bahwa kemerdekaan kita ini adalah “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” sebuah pengakuan yang tegas, yang keluar dari hati yang tulus.

Kita sadari pula bahwa kemerdekaan ini juga karena perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, maka sebagai bentuk rasa syukur, kita doakan mereka agar Allah swt melapangkan kuburnya, mengampuni dosa dan kesalahannya serta menerima amalan-amalan mereka.  Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya.  Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka doakanlah dia sehingga doa tersebut mencukupi”. (HR. Abu Dawud)

Selanjutnya adalah mensyukuri dengan perbuatan, yaitu dengan mengisi kemerdekaan ini dengan amal ketaatan, dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, menjalankan syariat Allah dan sunah Rasul-Nya.

Kalau kita tengok kondisi kaum muslimin di negara lain, betapa banyak kesulitan yang mereka alami.  Ada yang sulit mengumandangkan adzan, ada yang sulit mendapatkan makanan yang halal, kaum muslimahnya sulit berpakaian syar’i, sulit untuk shalat berjamaah – bahkan untuk shalat sendiri saja dihalang-halangi.  Sementara kita sangat mudah untuk melaksanakan berbagai macam ibadah tersebut, sehingga inipun juga harus kita syukuri.

Disamping kemudahan dalam menjalankan ibadah, rasa syukur ini perlu pula kita wujudkan dengan dakwah. Mengajak masyarakat untuk taat dan beramal kebajikan, sama-sama menegakkan Islam dan menjauhi kesyirikan dan kekufuran, menjauhi kefasikan, keingkaran dan kemaksiatan.  Allah swt berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (Fushshilat <41>: 33).

Kenapa kita perlu berdakwah?  karena kebaikan berupa aqidah yang benar dan amalan yang shalih tidak cukup dikerjakan sendiri saja, tetapi harus dilakukan secara kolektif agar Allah membukakan pintu berkah-Nya dari langit dan bumi.  Dalam QS. Al-‘Araf <7> ayat 96, Allah berfirman: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, …

Nah bagaimana, jika nikmat tersebut tidak kita syukuri?  Al-Qur’an yang dijamin kebenarannya mengabarkan dan janji Allah pasti akan terlaksana.  Bencana dan musibahlah akan terjadi!  “… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Ibrahim <14>: 7).

Lihatlah bagaimana Allah memperlakukan Fir’aun.  Allah berikan kekuasaan kepada Fir’aun, namun bukannya bersyukur malah sombong sampai-sampai mengatakan: “… Akulah tuhanmu yang paling tinggi". --- sebagaimana direkam dalam (QS. An-Nazi’at <79>: 24).  Bagaimana tindakan Allah?  QS. Adz-Dzariyat <51>: 40 mengabarkan: Maka Kami siksa dia (Firaun) dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.

Lihatlah lagi Qarun, yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena harta dan kekayaan yang melimpah.  Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash <28>: 76, “... dan Kami telah menganugerahkan kepadanya (Qarun) perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat …

Qarun bukannya bersyukur dan mengeluarkan hak harta tersebut untuk membantu orang lain, malah sombong dan membanggakan diri seraya mengatakan: “… Sesungguhnya aku diberi harta, karena ilmu yang ada padaku ..." (Al-Qashash <28>: 78), Maka Allah pun menenggelamkan Qarun bersama harta kekayaannya tersebut ke dalam perut bumi.

Disaat yang serba prihatin sekarang ini, kita perlu mereposisi ulang cara-cara untuk memperingati nikmat kemerdekaan.  Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemborosan, tidak berguna bahkan membawa mudharat hendaknya ditinggalkan.  Pesta-pesta, hura-hura dan kegiatan lainnya yang tidak berguna walaupun dengan bungkus untuk mensyukuri kemerdekaan hendaknya dihindari.

Kita manfaatkan dana tersebut untuk membantu fakir miskin dan cucu-cucu para pejuang agar bisa mendapatkan penghidupan yang layak.

Kita bermohon kepada Allah dan berjuang keras agar dapat merdeka secara lahir dan batin, merdeka dari sisi politik, hukum dan ekonomi – berdaulat disegala bidang dalam arti mandiri menentukan arah kebijakan pembangunan, tidak ada intervensi dari siapapun dan dari pihak manapun apalagi tekanan dari pihak asing.

Kita mohonkan juga agar Allah memberi petunjuk untuk senantiasa dapat bersyukur dengan hati, dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan. Kita berharap pula Allah swt senantiasa menambah nikmat-Nya dan menjauhkan dari azab-Nya.

SELAMAT HARI ULANG TAHUN KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA --- 17 AGUSTUS 2026 --- “INDONESIA BERDAULAT, ADIL DAN MAKMUR” (*)

Editor : Arief
Opini kemerdekaan