RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, NEW JERSEY – Empat pekan penuh drama, akhirnya bermuara di satu pertandingan terakhir. Setelah menyisihkan puluhan negara dan melewati berbagai ujian, Spanyol dan Argentina kini tinggal selangkah lagi menuju mahkota tertinggi sepak bola dunia. Kedua raksasa itu akan bentrok pada final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7) pukul 03.00 Wita.
Final ini bukan sekadar perebutan trofi. Lebih dari itu, laga ini menjadi pertarungan dua filosofi sepak bola, dua generasi berbeda, sekaligus dua negara yang sama-sama sedang memburu tempat istimewa dalam sejarah.
Spanyol datang dengan identitas permainan yang begitu jelas. La Furia Roja tampil sebagai tim paling konsisten sepanjang turnamen. Permainan berbasis penguasaan bola, tekanan tinggi, serta organisasi pertahanan yang disiplin membawa mereka melangkah mulus hingga partai puncak.
Di semifinal, tim asuhan Luis de la Fuente memperlihatkan kualitas sesungguhnya saat menumbangkan Prancis 2-0. Les Bleus yang dihuni deretan pemain kelas dunia, termasuk Kylian Mbappe, nyaris tak diberi ruang untuk mengembangkan permainan.
Tak hanya tajam di depan, Spanyol juga tampil luar biasa di belakang. Dari tujuh pertandingan, mereka hanya sekali kebobolan, menjadikan La Roja sebagai tim dengan pertahanan terbaik sepanjang turnamen.
Kini, generasi baru Spanyol berpeluang mengulang kisah emas yang pernah ditorehkan Andres Iniesta dan kawan-kawan saat menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Namun, lawan yang menanti bukan sembarang tim. Argentina. Sang juara bertahan.
Berbeda dengan Spanyol, Argentina mungkin tidak selalu tampil dominan sepanjang turnamen. Tetapi mereka berulang kali menunjukkan satu kualitas yang sulit dimiliki tim lain. Mental juara.
Pada fase gugur, Argentina beberapa kali berada di bawah tekanan. Mereka dipaksa bekerja keras saat menghadapi Mesir, Swiss hingga Inggris. Namun setiap kali berada di ambang kegagalan, tim asuhan Lionel Scaloni selalu menemukan cara untuk bangkit.
Semifinal melawan Inggris menjadi bukti paling nyata. Sempat tertinggal hingga lima menit menjelang waktu normal berakhir, Argentina mencetak dua gol dramatis melalui Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1 sekaligus memastikan tiket menuju final.
Di balik kebangkitan itu kembali berdiri sosok Lionel Messi. Kapten berusia 39 tahun tersebut memang tidak mencetak gol ke gawang Inggris, tetapi dua assist yang ia berikan kembali menunjukkan betapa besarnya pengaruh sang megabintang terhadap permainan Argentina.
Sepanjang turnamen, Messi sudah mengoleksi delapan gol dan empat assist. Kreativitas, visi bermain, serta ketenangan dalam mengambil keputusan membuatnya tetap menjadi pusat permainan Albiceleste.
Bagi Spanyol, membatasi ruang gerak Messi akan menjadi pekerjaan paling berat. Memberinya sedikit saja ruang dapat berakibat fatal, karena hampir seluruh perjalanan Argentina menuju final selalu diawali dari sentuhan magis sang kapten.
Sisi lain, final ini juga menghadirkan pertaruhan sejarah. Argentina memburu gelar dunia keempat sekaligus berpeluang menjadi negara pertama yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962.
Sementara Spanyol mengincar mahkota dunia kedua setelah penantian selama 16 tahun sejak kejayaan di Johannesburg pada 2010. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente menilai keberhasilan timnya mencapai final merupakan hasil dari proses panjang yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir.
"Kami memulai perjalanan ini dengan sebuah ide dan tetap setia pada identitas permainan kami. Argentina adalah tim hebat, tetapi kami datang dengan keyakinan penuh untuk memenangkan final," ujar De la Fuente.
Di kubu Argentina, Lionel Scaloni menegaskan timnya belum puas hanya dengan mencapai final. Ia meminta seluruh pemain tetap membumi dan menikmati kesempatan tampil di panggung terbesar dunia.
"Ini adalah kebanggaan besar bagi seluruh rakyat Argentina. Kami akan memberikan segalanya di lapangan, tetapi kami tahu final tidak akan mudah. Yang membuat saya bangga adalah para pemain selalu berjuang dengan hati," kata Scaloni.
Laga ini juga menjadi panggung dua generasi. Di satu sisi terdapat Messi yang kemungkinan menjalani pertandingan terakhirnya di Piala Dunia. Di sisi lain hadir Lamine Yamal, simbol lahirnya generasi baru sepak bola Spanyol yang siap mengambil alih panggung dunia.
Perebutan Posisi Ketiga
Sebelum partai puncak digelar, Prancis dan Inggris lebih dulu bertarung memperebutkan posisi ketiga di Hard Rock Stadium, Miami, Minggu (19/7) besok.
Prancis datang setelah dihentikan Spanyol 0-2 di semifinal, sedangkan Inggris gagal mempertahankan keunggulan saat akhirnya takluk 1-2 dari Argentina.
Bagi Les Bleus, pertandingan ini juga menjadi momen emosional karena menjadi laga terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih tim nasional setelah lebih dari satu dekade menangani Prancis.
Meski hanya memperebutkan medali perunggu, kedua tim tetap bertekad menutup turnamen dengan kemenangan sebagai bekal menghadapi agenda internasional berikutnya.
Sepatu Emas Masih Diperebutkan
Persaingan penghargaan Sepatu Emas juga belum berakhir. Lionel Messi untuk sementara memimpin daftar pencetak gol dengan delapan gol dan unggul produktivitas assist atas Kylian Mbappe yang memiliki jumlah gol serupa.
Di belakang keduanya masih ada Erling Haaland (7 gol), Harry Kane (6), Jude Bellingham (6), Ousmane Dembele (5), dan Mikel Oyarzabal (5). Dengan final serta perebutan tempat ketiga masih tersisa, persaingan memperebutkan gelar top skor dipastikan berlangsung hingga peluit panjang pertandingan terakhir Piala Dunia 2026 dibunyikan.
Bagi Messi, peluang mempertahankan gelar juara dunia sekaligus merebut Sepatu Emas akan menjadi penutup sempurna kariernya di Piala Dunia. Sementara Mbappe, Kane, maupun Oyarzabal masih memiliki kesempatan mengubah peta persaingan jika mampu tampil tajam pada laga terakhir turnamen. (bir/mof)
Editor : Arief