RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KUDUS – Partai final yang seharusnya berakhir di waktu normal justru berlanjut hingga titik putih.
All-Stars Kudus dan All-Stars Jakarta bertarung habis-habisan selama 90 menit tanpa mampu saling membongkar pertahanan, sebelum drama adu penalti akhirnya menentukan siapa yang berhak mengangkat trofi MLSC All-Stars 2026 di Supersoccer Arena, Kudus.
Kedua tim sebenarnya tidak kekurangan peluang. Pada menit 9, tendangan bebas Renanthera Aluna Addya Putri dari Kudus masih bisa diamankan kiper Jakarta, Erza Khalifa Sakhi.
Empat menit berselang, giliran Jakarta mendapat peluang serupa setelah Albianca Raula dilanggar di luar kotak penalti, namun eksekusinya melambung di atas mistar. Babak pertama pun berakhir tanpa gol.
Memasuki babak kedua, tensi pertandingan justru meningkat. Jakarta mencoba beberapa kali percobaan dari luar kotak penalti, sementara Kudus tampil lebih agresif dengan pressing tinggi yang memaksa Jakarta bertahan lebih dalam.
Sempat ada drama tambahan ketika kapten Jakarta, Andien Haifa Syakira, harus ditarik keluar akibat cedera pada menit 29 dan digantikan Aqila Alexa Putri. Namun hingga peluit panjang dibunyikan, skor tetap kacamata.
Di titik penalti, mental menjadi penentu. Kudus tampil lebih tenang dan menutup laga dengan kemenangan 4-3, memastikan gelar juara tetap berada di tangan mereka untuk kedua kalinya berturut-turut.
Kiper Kudus, Queisha Sava Azzalfa, mengaku skema adu penalti memang sudah menjadi bagian dari latihan rutin timnya jelang partai final. “Tadi pertandingannya memang panas dan sampai adu penalti. Tapi kita sudah fokus dan sudah kerja keras, akhirnya bisa juara," ujarnya.
Pelatih Kepala Kudus, Yayat Hidayat, menyebut training center yang dilakukan jelang turnamen menjadi kunci kekompakan tim. "Selama ini Indonesia kesulitan mencari bibit pemain sepak bola perempuan, dengan adanya MLSC ini sangat membantu mendapatkan pemain terbaik," ujarnya.
Di kubu seberang, Pelatih Kepala Jakarta, Arifin, mengaku tetap bangga meski gagal di titik penalti yang menurutnya lebih mengandalkan mental ketimbang teknik.
"Kita jujur tidak ada persiapan sama sekali untuk adu penalti. Bahkan pada saat memilih penendang, pemain kita tidak ada yang siap, bahkan sampai ada yang menangis. Tapi dengan hasilnya, saya sangat bangga dengan tim saya," katanya.
Di perebutan tempat ketiga, All-Stars Surabaya berhasil menundukkan All-Stars Yogyakarta dengan skor 1-0. Gol tunggal kemenangan dicetak Agnia Nurul Fadhila Rohman pada menit 23 memanfaatkan umpan lambung ke muka gawang.
Hasil ini membuat Surabaya mempertahankan peringkat tiga seperti capaian tahun sebelumnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief