Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

FIFA Kembali Menggunakan Aturan Head to Head di Piala Dunia 2026, Penentuan Peringkat Tak Langsung Berdasarkan Selisih Gol

admin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:51 WIB
ILUSTRASI: Piala Dunia 2026 telah dimulai.
ILUSTRASI: Piala Dunia 2026 telah dimulai.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Piala Dunia 2026 akan menghadirkan kembali aturan Head to Head sebagai salah satu penentu posisi klasemen fase grup. Kebijakan ini menjadi perhatian pecinta sepak bola dunia, karena berbeda dengan Piala Dunia 2022 yang lebih mengutamakan selisih gol keseluruhan.

Dalam regulasi resmi FIFA, jika dua tim atau lebih mengakhiri fase grup dengan jumlah poin yang sama, penentuan peringkat tidak langsung berdasarkan selisih gol dari seluruh pertandingan. FIFA terlebih dahulu melihat hasil pertemuan langsung (Head to Head) antara tim-tim yang memiliki poin identik. "Dengan sistem baru ini, setiap pertandingan melawan rival langsung menjadi sangat krusial. Tim tidak bisa lagi hanya mengandalkan selisih gol besar, karena hasil Head to Head akan menjadi penentu pertama ketika poin sama," tulis FIFA dalam penjelasan resminya.

Urutan penentuan klasemen diawali dari jumlah poin. Jika masih sama, FIFA akan menghitung poin yang diperoleh dalam pertandingan antartim yang memiliki poin identik. Apabila belum menghasilkan perbedaan, penilaian berlanjut pada selisih gol dalam laga Head to Head. Jika masih imbang, jumlah gol yang dicetak dalam pertandingan tersebut menjadi faktor penentu berikutnya.

Bila seluruh indikator Head to Head masih sama, barulah FIFA beralih menghitung statistik dari seluruh pertandingan fase grup. Kriteria pertama yang digunakan adalah selisih gol keseluruhan, kemudian jumlah gol yang dicetak sepanjang fase grup. Jika masih belum ditemukan perbedaan, FIFA akan melihat poin fair play yang dihitung berdasarkan jumlah kartu kuning dan kartu merah masing-masing tim selama turnamen berlangsung. Tim dengan catatan disiplin lebih baik akan memiliki keuntungan.

Menariknya, FIFA kini menetapkan peringkat FIFA sebagai penentu terakhir apabila seluruh kriteria sebelumnya masih menghasilkan nilai yang sama. Dengan aturan ini, metode pengundian atau lempar koin yang pernah digunakan pada era sebelumnya tidak lagi menjadi pilihan.

Sebagai contoh, sebuah tim tetap bisa finis di atas rivalnya meski memiliki selisih gol keseluruhan yang lebih rendah. Misalnya Senegal dan Norwegia sama-sama mengoleksi enam poin di akhir fase grup. Walaupun Norwegia unggul dalam selisih gol total, Senegal tetap berhak menempati posisi lebih tinggi apabila memenangkan pertemuan langsung di antara keduanya.

Sistem serupa pernah diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Sementara pada edisi 2006, 2010, 2014, dan 2022, FIFA lebih mengutamakan selisih gol keseluruhan sebelum mempertimbangkan faktor lainnya.

Kembalinya aturan Head to Head diperkirakan akan membuat persaingan di fase grup Piala Dunia 2026 semakin ketat. Setiap pertandingan melawan pesaing utama akan memiliki dampak besar terhadap peluang lolos ke babak berikutnya.

Karena itu, memahami aturan ini menjadi penting bagi para penggemar sepak bola agar tidak keliru membaca dinamika klasemen selama turnamen terbesar di dunia berlangsung.

Editor : Arief
#FIFA #piala dunia