RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANSAS - Sejak 1994, tidak ada satu pun tim yang menduduki peringkat satu FIFA berhasil menjuarai Piala Dunia. Kini Argentina datang dengan status itu, dan Aljazair sudah menyatakan siap menjadi pembuka neraka.
Dalam dunia sepak bola, ada fakta yang terdengar seperti kebetulan tapi terlalu konsisten untuk diabaikan. Sejak ranking FIFA pertama kali diperkenalkan pada 1992, tidak satu pun tim yang menduduki peringkat teratas berhasil mengangkat trofi Piala Dunia.
Pada Piala Dunia 1994, Jerman datang sebagai tim nomor satu dunia. Namun, gelar juara justru diraih Brasil. Empat tahun kemudian, Brasil menyandang status yang sama pada edisi 1998, tetapi harus melihat Prancis menjadi kampiun di kandang sendiri.
Tren itu berlanjut pada 2002 saat Prancis berstatus peringkat satu dunia. Namun, Brasil yang keluar sebagai juara. Tahun 2006, Brasil kembali menjadi unggulan utama berdasarkan ranking FIFA, tetapi Italia yang akhirnya mengangkat trofi.
Piala Dunia 2010 juga menghadirkan cerita serupa. Brasil datang sebagai tim terbaik dunia versi ranking FIFA, namun Spanyol yang meraih gelar juara pertamanya. Pada 2014 giliran Spanyol yang berstatus nomor satu dunia, tetapi Jerman yang berjaya di Brasil.
Edisi 2018 tidak mengubah pola tersebut. Jerman sebagai pemuncak ranking FIFA bahkan tersingkir lebih awal, sementara Prancis keluar sebagai juara. Begitu pula pada 2022 ketika Brasil datang dengan status tim nomor satu dunia, tetapi Argentina yang akhirnya mengangkat trofi di Qatar.
Dengan kata lain, selama 32 tahun terakhir atau delapan edisi beruntun Piala Dunia, status peringkat satu dunia belum pernah berhasil dikonversi menjadi gelar juara dunia.
Data ini menunjukkan bahwa ranking FIFA memang menggambarkan konsistensi sebuah tim dalam periode tertentu, tetapi tidak menjamin kesuksesan di turnamen singkat seperti Piala Dunia. Faktor mental, momentum, kedalaman skuad, hingga kemampuan menghadapi tekanan di fase gugur sering kali lebih menentukan dibanding posisi di ranking dunia.
Delapan Piala Dunia. Delapan kali tim terbaik di dunia menurut data justru pulang lebih awal dari yang diharapkan. Dan kini, di Piala Dunia 2026, Argentina hadir sebagai juara bertahan sekaligus tim peringkat satu FIFA. Mereka duduk persis di titik yang selama 32 tahun terakhir menjadi jebakan tersembunyi bagi siapapun yang mendudukinya.
Pertanyaannya sederhana dan mengerikan sekaligus, apakah Albiceleste akan menjadi yang pertama memecahkan kutukan ini? Atau justru menjadi korban kesembilan?
Jawaban atas pertanyaan itu mulai dicari pada Selasa (16/6) dini hari, ketika Argentina memulai petualangan mereka di Grup J dengan menghadapi Aljazair di Kansas City. Laga pembuka yang secara teoritis seharusnya berjalan mudah. Tapi tidak ada yang mudah di Piala Dunia ketika melibatkan nama sebesar Argentina.
Tim besutan Lionel Scaloni ini lolos ke turnamen sebagai juara kualifikasi zona Amerika Selatan. Messi dan kawan-kawan datang dengan kedalaman skuad yang matang, pengalaman juara yang masih segar, dan satu target yang tidak berubah, mempertahankan gelar dua kali berturut-turut. Prestasi ini hanya pernah dilakukan Brasil pada 1958 dan 1962.
“Kami tidak akan meremehkan siapa pun. Fokus kami sepenuhnya ada pada pertandingan pembuka ini. Tim ini sangat seimbang dan memiliki kedalaman skuad yang sangat matang,” ujar Scaloni.
Ia juga memastikan kiper andalan Emiliano "Dibu" Martinez sudah pulih sepenuhnya dari cedera jari dan siap tampil sejak menit pertama.
Di sisi lawan, Aljazair hadir bukan untuk sekadar mengisi kuota Grup J. Desert Foxes tampil mengesankan di kualifikasi Afrika. Mereka menjadi juara Grup G dengan 25 poin. Mereka punya modal yang tidak bisa diabaikan, dan yang lebih penting, mereka punya keberanian untuk mengatakannya secara terbuka.
Pelatih Aljazair, Vladimir Petkovic, sudah menyiapkan strategi yang jelas. Bermain dengan kepala dingin, disiplin tinggi, dan meredam permainan bola pendek Argentina yang selama ini menjadi senjata utama Messi dkk.
Dan yang paling menggetarkan datang dari gelandang muda Aljazair, Ibrahim Maza. Pemain ini tidak sekadar percaya diri, ia menyatakan keyakinannya dengan lantang, dengan nama spesifik, tanpa basa-basi.
“Kami akan mengalahkan Messi, insya Allah. Kami harus menjalani Piala Dunia dengan baik, dan pertandingan pertama melawan Argentina sangatlah penting. Mereka banyak melakukan provokasi, tetapi kami harus mencurahkan segenap kemampuan ke dalam pertandingan, bermain dengan kepala dingin, dan melihat apa yang akan terjadi,” kata Maza.
Riyad Mahrez akan menjadi otak serangan Aljazair, pemain yang selama bertahun-tahun membuktikan kemampuannya di level tertinggi Liga Inggris bersama Manchester City dan kini beroperasi di level Piala Dunia dengan beban yang ia kenal dengan baik.
Di atas kertas, Argentina unggul hampir di setiap aspek. Kualitas individual, pengalaman bertanding di level tertinggi, mentalitas juara yang baru saja dibuktikan empat tahun lalu di Qatar. Tapi Piala Dunia bukan pertandingan di atas kertas. Dan sejarah sudah cukup sering membuktikan bahwa 90 menit di lapangan bisa menghancurkan prediksi yang paling logis sekalipun.
Editor : Arief