WASHINGTON - Gelaran Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung pekan terancam batal karena banyaknya ancaman boikot dari sejumlah negara.
Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada semakin terdesak karena rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang ingin merebut Greenland dengan alasan keamanan nasional.
Parahnya lagi, ia juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang tidak "setuju" dengan rencananya.
Pejabat Asosiasi Sepak Bola Jerman, Oke Gottlich, mengatakan kepada surat kabar Hamburger Morgenpost bahwa federasi seharusnya mulai mempertimbangkan boikot Piala Dunia 2026 karena tingkah politik Donald Trump.
"Saya benar-benar bertanya-tanya kapan waktunya untuk memikirkan dan membicarakan hal ini (boikot) secara konkret," ujarnya dikutip dari Sportbible.
"Bagi saya, saatnya (boikot) telah tiba," tambahnya.
Jika skenario itu terjadi, maka akan ada kekacauan besar yang dialami oleh sepak bola dunia.
Seorang pakar keuangan sepak bola Rob Wilson mencoba menjabarkan potensi kerugian yang terjadi jika ada peserta yang memutuskan untuk memboikot Piala Dunia 2026.
Wilson sempat menguraikan implikasi potensial dari boikot bila dilakukan oleh dua kekuatan besar sepak bola dunia, Argentina atau Brasil.
"Itu akan menyebabkan kerusakan besar jika salah satu negara besar Amerika Selatan memutuskan untuk memboikot Piala Dunia, tim-tim lain mungkin akan mengikuti jejak mereka, dan kemudian Anda bisa berakhir dengan sebuah benua dan federasinya juga ikut menarik diri," katanya kepada BettingLounge.
Menurutnya, tim dari Amerika Selatan merupakan pemain besar di Piala Dunia dan cukup ikonik di turnamen ini. "Negara-negara Amerika Selatan adalah pemain terbesar di sini. Argentina adalah juara bertahan. Brasil adalah salah satu negara Piala Dunia yang paling ikonik," ujarnya.
"Jika tim-tim ini menarik diri dari kompetisi, maka Anda akan mengalami kerugian yang signifikan," sambungnya.
Jika boikot tercetus dari negara Amerika Selatan, kemungkinan negara dari asosiasi lain juga akan ikut melakukan hal yang sama.
Editor : Arief