LONDON – Pergantian tahun menuju 2026 diwarnai keputusan mengejutkan dari Chelsea. Klub Premier League asal London itu resmi memecat pelatih kepala Enzo Maresca, meski sang arsitek tim telah mempersembahkan dua gelar bergengsi sejak menangani The Blues pada 2024.
Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi klub.
“Chelsea Football Club dan pelatih kepala Enzo Maresca telah berpisah,” demikian pernyataan Chelsea. “Selama masa jabatannya di klub, Enzo memimpin tim meraih kesuksesan di UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub FIFA”. “Prestasi tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah klub baru-baru ini, dan kami berterima kasih atas kontribusinya kepada klub”.
Pemecatan ini menimbulkan tanda tanya besar. Secara performa, Chelsea sejatinya belum terpuruk. The Blues masih berada di peringkat kelima Liga Primer Inggris, tetap bersaing memperebutkan tiket Liga Champions, serta bertahan di Piala FA, Piala Liga, dan Liga Champions.
Namun, jarak 15 poin dari Arsenal serta catatan hanya dua kemenangan dari tujuh laga liga terakhir menjadi alarm serius bagi manajemen. Ambisi Chelsea untuk kembali bersaing di papan atas membuat toleransi terhadap stagnasi kian menipis.
Di balik keputusan tersebut, retaknya hubungan internal disebut menjadi pemicu utama. Maresca beberapa kali mengeluhkan minimnya dukungan manajemen, terutama terkait permintaan penambahan kedalaman skuad setelah jadwal padat, termasuk usai Piala Dunia Antarklub. Manajemen Chelsea justru meminta sang pelatih memaksimalkan skuad yang ada.
Ketegangan makin terbuka saat Maresca absen dari konferensi pers usai Chelsea ditahan imbang Bournemouth 2-2 akhir Desember lalu. Ia beralasan sakit, namun situasi itu memicu spekulasi luas.
Masalah internal kian rumit setelah laporan David Ornstein dari The Athletic mengungkap bahwa Maresca diam-diam melakukan komunikasi dengan Manchester City terkait peluang melatih klub tersebut sebagai penerus Pep Guardiola. “Sumber-sumber yang diberi informasi tentang masalah ini, namun tidak berwenang untuk berbicara di depan umum,” tutur Ornstein.
“Mengindikasikan bahwa Maresca memberi tahu Chelsea — dua kali pada akhir Oktober dan sekali lagi pada pertengahan Desember — bahwa ia sedang berbicara dengan orang-orang yang terkait dengan City tentang pencalonannya untuk posisi manajer jika dan ketika lowongan muncul di masa mendatang”. “Ini adalah sesuatu yang secara kontraktual wajib ia lakukan terkait dengan pembicaraan dengan klub lain mana pun”.
Meski Maresca memenuhi kewajiban kontraktual, langkah tersebut kabarnya membuat manajemen Chelsea geram dan mempercepat keputusan berpisah. Selain dengan manajemen, hubungan Maresca dengan suporter juga memburuk. Ia beberapa kali mendapat cemoohan, terutama setelah hasil negatif. Puncaknya terjadi saat Chelsea ditahan Bournemouth 2-2 pada 30 Desember, ketika pergantian Cole Palmer memicu nyanyian satir dari tribun.
“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan,” cemooh suporter.
Pascapemecatan Maresca, Chelsea langsung bergerak mencari pengganti. Nama Liam Rosenior, pelatih Strasbourg asal Inggris, mencuat sebagai kandidat terdepan. Rosenior dinilai memiliki pendekatan modern dan cocok dengan proyek jangka panjang klub, meski minim pengalaman di level elite.
Mantan pemain Chelsea, Pat Nevin meragukan langkah tersebut.
“Liam Rosenior terdengar seperti ide yang sangat bagus, tetapi ia belum pernah melakukannya di level ini. Membawa seseorang yang tidak memiliki pengalaman di level tersebut adalah risiko yang sangat besar. Mereka akan mendatangkan seseorang yang muda dan mudah dimanipulasi,” cetusnya pada BBC.
Nama Roberto De Zerbi sempat masuk radar, namun disebut tidak menjadi prioritas. Kini, Chelsea bersiap membuka lembaran baru di awal 2026, dengan pertanyaan besar: apakah keputusan berpisah dengan Maresca akan menjadi langkah tepat, atau justru awal dari turbulensi baru di Stamford Bridge.
Editor : Arief