Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ribuan Ikan Keramba Jaring Apung Terancam Mati Sebelum Dipanen, Pembudidaya dari Sungai Arfat Desak Solusi Permanen

M Fadlan Zakiri • Kamis, 9 Juli 2026 | 11:48 WIB
SELALU TERULANG: Kepala Desa Sungai Arfat, Iyan bersama pembudidaya ikan dan DPD Tani Merdeka Indonesia meninjau keramba jaring apung yang terdampak penurunan debit air. (Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)
SELALU TERULANG: Kepala Desa Sungai Arfat, Iyan bersama pembudidaya ikan dan DPD Tani Merdeka Indonesia meninjau keramba jaring apung yang terdampak penurunan debit air. (Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Musim kemarau kembali menebar ancaman bagi pembudidaya ikan keramba jaring apung di Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan. Penurunan debit air yang berulang setiap tahun membuat kadar oksigen di sungai merosot drastis.

Dampaknya, ancaman ribuan ikan mati sebelum masa panen. Namun, hingga kini, belum ada solusi permanen yang mampu menghentikan kerugian tahunan para petani ikan.

Kepala Desa Sungai Arfat, Iyan, menegaskan bahwa persoalan ini sudah menjadi siklus tahunan yang melelahkan. “Hampir setiap musim kemarau kejadian seperti ini terulang. Debit air turun, oksigen berkurang, ikan tidak mampu bertahan hidup,” ujarnya.

Selama ini, langkah darurat yang bisa dilakukan pemerintah desa hanya mengimbau warga agar segera memanen ikan sebelum kondisi air semakin memburuk. “Kalau sudah masuk musim kemarau, kami minta warga segera panen supaya kerugiannya tidak terlalu besar,” tambahnya.

Harapan agar ada pengaturan distribusi air yang lebih baik juga disuarakan Ketua BPD Desa Sungai Arfat, Nasrudin, yang sekaligus menjadi pembudidaya ikan. Menurutnya, masalah kekurangan air saat kemarau sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan yang tuntas. “Kami berharap Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan bersama Pemkab Banjar memberi perhatian lebih serius,” katanya.

Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar penanganan darurat, melainkan langkah antisipatif agar peristiwa serupa tidak terus berulang. “Jangan sampai setiap tahun petani ikan mengalami kerugian karena ikan mati akibat kekurangan air,” tegasnya.

Keluhan para pembudidaya turut menjadi perhatian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Banjar. Ketua DPD TMI, Helda Rina, yang meninjau langsung keramba jaring apung di Sungai Arfat, membenarkan kondisi kritis tersebut. “Masalah ini bukan hanya terjadi tahun ini. Hampir setiap musim kemarau selalu terulang sehingga perlu solusi jangka panjang,” ujarnya.

Ia menilai penanganan tidak cukup dilakukan setelah ikan mati, melainkan harus ada langkah terpadu mulai dari pengelolaan distribusi air hingga mitigasi agar pembudidaya tidak terus merugi. “Harus ada kolaborasi agar persoalan ini tidak terus berulang dan masyarakat tidak lagi menanggung kerugian setiap tahun,” tekannya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#ikan keramba #Perikanan #kemarau #kabupaten banjar