KANDANGAN – Di zaman serba cepat dan canggih, wartawan tak hanya bersaing dengan sesama pewarta, kini mereka juga harus beradu tajam dengan kecerdasan buatan Artificial Inteligence alias AI.
AI adalah sebuah teknologi yang katanya bisa menulis berita, menganalisis data, sampai membuat gambar dari deskripsi. Tampaknya AI sudah menjadi saingan serius berbagai profesi, termasuk wartawan.
"Banyak yang khawatir, misalnya profesi dokter maupun profesi lainnya digantikan oleh AI,” ucap dosen Informatika Universitas Telkom, Mahendra Dwifebri Purbolaksono saat menjadi narasumber di acara Capasity Building Jurnalis Ekonomi Kalsel, Selasa (24/6/2025) siang.
Ia membeberkan, AI berkembang pesat sejak era Alan Turing, matematikawan Inggris yang dikenal sebagai bapaknya AI.
Setelah itu, lahir istilah AI oleh John McCarthy tahun 1956, lalu berkembang jadi bermacam-macam. Dari AI yang bisa main catur, bikin lukisan, sampai membuat video dan sebagainya.
"Sekarang AI sudah bisa buat berita, tetapi setelah selesai harus tetap dicek kembali apakah sudah sesuai dengan fakta-fakta yang didapatkan di lapangan," jelasnya.
Meski bisa cepat dan ringkas, AI tetaplah mesin. Dia dapat membantu, tapi dia tak punya nurani.
"Berita bukan cuma soal fakta. Ada rasa, empati, dan keberpihakan yang tak bisa diajarkan ke mesin," ujarnya.
Data dari Reuters Institute menunjukkan bahwa 65 persen jurnalis sudah menggunakan AI. Tapi hanya 20 persen yang belajar secara formal. Sisanya belajar otodidak.
"Ini problemnya. Kalau tidak paham cara kerja AI, bisa salah pakai. Nanti berita jadi asal comot, kredibilitas jatuh," katanya.
Hal ini diamini Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan (KPwBI Kalsel), Fadjar Majardi yang mulai rutin menggunakan AI untuk membantu setiap pekerjaannya.
"Saya pakai AI untuk bantu nulis pidato, cek data ekonomi, sampai buat pantun. Tapi tetap, harus ada sentuhan manusia," ucapnya seraya tersenyum.
Menurutnya, AI bukanlah musuh. Justru bisa jadi partner kerja wartawan. Asalkan menggunakannya dengan bijak, jangan sembarangan.
"Kalau dipakai dengan cerdas, AI bisa membantu pekerjaan, periksa fakta, menyusun data, dan merapikan naskah. Tapi jangan semuanya diserahkan ke mesin," tutup Fadjar.
Editor : Fauzan Ridhani