RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI – Gemericik bunyi air, lantunan mantra sakral, dan gerak tubuh yang mengalir perlahan menyelimuti ruang pertunjukan. Karya tari bertajuk Jamas Ritus Penyucian Diri Urang Banjar tampil bukan sekadar sebagai suguhan seni, tetapi juga ruang kontemplasi tentang tradisi, spiritualitas, dan identitas budaya Banjar.
Karya garapan Yayasan Sanggar Air Hulu Sungai Utara (HSU) itu terinspirasi dari ritual badudus atau bamandi-mandi, tradisi sakral masyarakat Banjar yang dimaknai sebagai proses penyucian diri sebelum memasuki fase kehidupan baru sekaligus penolak bala.
Penanggung jawab karya, Hendra Royadi Saina, mengatakan “Jamas” lahir dari kegelisahan sekaligus kerinduan untuk kembali menghadirkan nilai-nilai penyucian diri di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
“Jamas bukan sekadar tari pertunjukan. Ini adalah doa yang dipanggungkan. Setiap gerak menjadi simbol permohonan agar manusia dibersihkan dari segala bala dan diberi kesiapan memasuki lembaran hidup yang baru,” ujarnya kepada media ini, Jumat (15/5).
Menurut Hendra, ritual badudus pada mulanya merupakan bagian dari prosesi penobatan raja di Kerajaan Banjar. Namun, dalam perkembangannya, tradisi itu hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari prosesi pernikahan, tujuh bulanan, hingga pengobatan tradisional.
Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa panggung melalui perpaduan gerak, bunyi, dan visual yang sarat simbol budaya.
Dalam pertunjukan, unsur air tidak dihadirkan secara literal. Sebagai gantinya, panggung ditutupi hamparan kain putih besar yang menjadi simbol aliran kehidupan dari masa lalu menuju masa kini.
Gerak para penari tampil lembut dan mengalir layaknya arus sungai, merepresentasikan kehidupan Urang Banjar yang erat dengan budaya perairan.
Ada gerakan membasuh, menyiram, hingga membersihkan yang dibangun dalam nuansa lambat dan sakral, lalu sesekali berubah dinamis untuk menggambarkan pergulatan batin manusia.
Nuansa spiritual semakin terasa lewat komposisi musik garapan Sarif Radana yang memadukan instrumen tradisional Kalimantan Selatan dengan bunyi alam seperti gemericik air dan hembusan angin.
Di sela pertunjukan, mantra-mantra sakral turut dilantunkan dan berpadu dengan kalimat religius “La Ila Ha Ilallah, Muhammad Rasulullah”, menciptakan suasana meditatif yang menghanyutkan penonton.
Tata artistik panggung dibuat minimalis, tetapi penuh makna.
Permainan cahaya menghadirkan bayangan yang menegaskan pertarungan antara kegelapan dan kesucian.
Busana para penari juga memperkuat identitas budaya Banjar. Penari putri mengenakan modifikasi baju layang dan kebaya lengkap dengan sanggul berhias kembang bogam melati serta balutan kain sasirangan yang menggambarkan suasana mandi ritual.
Sementara itu, penari putra tampil dengan kostum bernuansa kerajaan Banjar yang dipadukan unsur sasirangan dan hiasan mayang.
Hendra berharap karya “Jamas” dapat menjadi pengingat bahwa budaya Banjar bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi tetap relevan dengan kehidupan hari ini.
“Budaya sungai mengajarkan bahwa setiap aliran air memiliki kekuatan membersihkan dan menyembuhkan. Pesan itu yang ingin kami hadirkan lewat karya ini,” katanya.
Baginya, “Jamas” merupakan upaya merawat identitas budaya Banjar sekaligus menyampaikan pesan universal tentang harapan, penyembuhan, dan permulaan hidup yang baru.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud HSU, Hj Rahmawati, mengatakan tradisi badudus atau mandi suci merupakan warisan turun-temurun yang masih dilaksanakan masyarakat hingga sekarang.
Menurut dia, kehadiran Tari Jamas yang dikemas Sanggar Air menjadi salah satu cara kreatif menghidupkan kembali tradisi dalam bentuk pertunjukan tari dan koreografi yang bernilai seni tinggi.
Pementasan Tari Jamas sendiri digelar di Taman Budaya Kota Banjarmasin beberapa waktu lalu dan mendapat perhatian penonton lewat balutan visual yang sakral sekaligus artistik.
Editor : Arief