BARABAI-Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), memiliki objek wisata alam dan air yang sangat indah. Bahkan kuliner khas daerah ini kerab kali menjadi incaran para wisatawan. Namun yang tak kalah menarik adalah olahan kerajinan tangan warganya.
Olahan kerajinan ini menjadi ciri khas dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. HST banyak memiliki berbagai produk unggulan yang bisa dibanggakan. Bahkan sudah dipasarkan di dalam negeri dan luar negeri.
Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dalam melakukan promosi dan pemasaran, membuat produk-produk tersebut kian dikenal banyak orang. Penggunaan media dan media sosial sebagai sarana promosi juga sangat membantu di era digital seperti sekarang.
Berikut adalah lima olahan kerajinan tangan khas Hulu Sungai Tengah yang bisa dijadikan cendera mata atau sekadar koleksi pribadi di rumah.
Kalian bisa mendapatkan lima produk tersebut di Galeri Dekranasda HST Jl Abdul Muis Redhani Nomor 66.
Kerajinan Marmer
Kerajinan marmer ini buatan warga HST di Desa Batu Tangga, Kecamatan Batang Alai Timur. Para pengrajin di sana telah dibina ditingkatkan skillnya dengan berbagai pelatihan dan pemenuhan alat-alat oleh pemerintah setempat.
Kerajinan marmer yang dibuat seperti gantungan kunci, kursi satu set dan meja, tempat tisu, asbak, pot bunga dan sesuai pesanan. Untuk harga sendiri dimulai dari Rp25 ribu hingga yang paling mahal sekira Rp3 juta.
Tas Eceng Gondok
Tas eceng gondok ini olahan Warga Pantai Hambawang, Kecamatan Labuan Amas Selatan. Tas buatannya sudah menembus pasar luar daerah. Bahan baku utama, yakni eceng gondok yang diambil di area rawa Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara.
Ukuran tas dan modelnya juga bervariasi. Dibuat sesuai dengan perkembangan zaman dan mengikuti gaya kekinian. Harganya dipatok mulai dari Rp10 ribu hingga ratusan ribu Rupiah sesuai permintaan pelanggan. Tak hanya membuat tas bahan eceng gondok juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan lapisan membuat kursi, meja santai dan tikar.
Kerajinan Tas Ecoprint
Kerajinan ini diolah menggunakan bahan berupa daun yang dipadukan dengan kulit sapi. Karena bahannya yang sulit, maka harga tas ini cukup mahal. Kisarannya Rp500 ribu ke atas. Tas ini merupakan olahan asli warga HST bernama Dian. Lokasinya di Pasar 1 Kecamatan Barabai.
Tas ecoprint telah menembus pasar luar daerah. Karena tampilannya yang elegan, kerajinan ini acap kali diikutsertakan dalam pameran-pameran dan mampu memikat pengunjung. Pemerintah daerah juga ikut memasarkan produk tersebut agar lebih berkembang.
Pemerintah daerah juga sangat terbuka menerima saran dan keluhan dari pelau kerajinan demi kemajuan pengrajin agar tetap eksis.
Kerajinan Kain Sasirangan
Walaupun kain sasirangan banyak ditemui di setiap Kabupaten atau Kota di Kalsel, ternyata HST memiliki ciri tersendiri dalam bentuk motif sasirangan. Yakni motif Burung Anggang, hewan yang juga dijadikan sebagai tugu selamat datang oleh pemerintah setempat.
Di HST banyak sekali pengrajin kain sasirangan. Hampir setiap tahun Dinas Perdagangan HST melakukan pelatihan peningkatan skill pembuatan kain sasirangan agar memiliki motif yang bervariasi.
Para pengrajin di HST telah memiliki rumah usaha masing-masing hal ini memudahkan pemerintah dalam melakukan pembinaan.
Kain sasirangan khas HST ini juga kerap kali diikutkan dalam acara pameran di dalam dan luar daerah. Kualitasnya juga tak kalah dari sasirangan yang lain.
Olahan Kacang Jaruk
Ini memang bukan kerajinan tangan, tapi olahan kacang jaruk ini menjadi camilan yang sangat disukai oleh masyarakat. Pembuatnya Hj Ati dari Desa Haruyan, Kecamatan Haruyan.
Selain dibina oleh Dinas Perdagangan HST, produksi ini juga mendapat dukungan dari pemerintah Provinsi Kalsel.
Ini menjadi bukti bahwa olahan kacang jaruk di HST memiliki rasa yang khas. Bahkan mampu tembus pasar hingga luar negeri. Mulai dari Malaysia sampai Arab Saudi.
Editor : Arief