Melihat alat musik tradisional yang biasa digunakan Lembaga Pusat Olah Seni dan Komunikasi (Posko) La-Bastari di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) yang didirikan sejak 17 Agustus 1969 oleh para tokoh-tokoh seniman lokal.
La-Bastari juga membentuk komunitas kesenian yang memunculkan seniman muda. Mereka adalah para generasi muda yang ingin berkesenian baik teater dan tari.
Kesenian tari yang ditampilkan La-Bastari sendiri, memang masih mengandalkan alat musik tradisional Banjar.
Alat-alat musik Banjar memang banyak dipengaruhi oleh budaya Melayu. Selain budaya Hindu yang masih kental. Hal ini dikarenakan pengaruh kesenian Melayu yang banyak berperan dalam kesenian suku Banjar. Pengaruh tersebut tidak saja menyangkut bahasa tetapi juga budaya.
Lama-kelamaan tejadi perpaduan yang harmonis di antara kebudayaan Banjar yang pada mulanya masih terpengaruh Hindu dengan kebudayaan Melayu yang bemafaskan Islam. Perpaduan tersebut menciptakan suatu kebuadayaan Banjar yang baru dari pertemuan dua titik kebudayaan tersebut.
Mudahnya kebudayaan Melayu yang bemafaskan Islam dalam mempengaruhi kebudayaan Banjar tidak lain disebabkan adanya beberapa kemiripan di antara dua kebudayaan tersebut. Kemiripan itu menyangkut bahasa dan agama.
Karena itu pula, berbagai kegiatan seni budaya dalam masyarakat Banjar seperti, bidang sastra, seni suara, musik, tari, dan teater ralyat memiliki lintas budaya dengan konsepsi estetika seni budaya bangsa Melayu, seperti Rudat, Zapin, Hadrah, Dundam, lamut, mamanda, dan madihin.
Suara musik banyak macamnya. Begitu pula alat yang digunakan. Berikut adalah beberapa alat music tradisional Banjar. (foto-foto dari: Muhamad Ferry Fauzan -Ujank Kono-)
Editor : Arief