BERKUNJUNG: Aipda Fahriansyah mengunjungi nenek Misbah di gubuk tua tempatnya tinggal. FOTO: JAMALUDDIN/RADAR BANJARMASINMARABAHAN - Jika hendak membeli alat transportasi air seperti perahu tradisional atau kelotok bisa saja datang ke Pulau Sewangi. Perkampungan ini adalah salah satu kawasan pembuat perahu tradisional yang terkenal di Kalimantan Selatan (Kalsel). Lokasinya di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Keberadaan pengrajin perahu di kawasan pulau kecil ini telah berlangsung puluhan tahun silam. Ada lima rukun tetangga (RT) yang menggeluti usaha turun-temurun tersebut.
Perahu yang dikerjakan berbagai macam. Ada yang berukuran sedang yang digunakan di sungai-sungai saja, dan ada pula khusus perahu untuk ke laut, seperti kapal nelayan.
Rata-rata peminatnya masyarakat yang berdomisili di pesisir sungai. Diantaranya seperti Tabunganen, Tamban dan beberapa daerah di Kabupaten Batola. Selain itu datang dari daerah Taboneo, Tanifah Kabupaten Tanah Laut hingga dari daerah di Kalimantan Tengah.
Meningkatnya pesanan biasanya ketika musim bercocok tanam.
Pada saat itu masyarakat banyak memesan perahu. Keperluan mereka biasanya digunakan untuk mengangkut hasil panen, maupun rutinitas masyarakat berkebun. Harga perahu bervariasi sesuai dengan ukuran. Mulai dari Rp2,5 juta, Rp 5 juta, Rp 15 juta hingga Rp 40 juta untuk jenis ukuran perahu besar.
Photo PERAHU NELAYAN: Harga perahu besar ini yang biasa digunakan untuk melaut guna mencari ikan. Harganya mencapai Rp 40 juta.
Photo RAMPUNG: Perahu yang dipesan siap digunakan oleh si pemesan. Perahu ini biasa digunakan untuk masyarakat pinggiran sungai beraktivitas.
Photo SATU BULAN SELESAI: Proses pembuatan awal bagian ini adalah yang tersulit. Setelahnya, dianggap lebih mudah.
Photo PROSES DEMPUL: Perahu sampan satu ini dinamakan Jukung papan, sebab proses pembuatan lambungnya dari susunan papan.
Photo PROSES AKHIR: Pengecetan merupakan tanda pembuatan jukung atau perahu selesai. Biasanya perahu dicat dengan warna cerah. Editor : Arief