Sinyal Kominfo Rusak, Warga Pelosok Balangan Bertahan Pakai Ini

M Dirga • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:27 WIB
Suasana Dusun Bayur, Desa Tundakan, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan yang mengandalkan panel surya dan genset untuk menghidupkan perangkat di tengah ketiadaan listrik PLN. (Isti untuk Radar Banjarmasin)
Suasana Dusun Bayur, Desa Tundakan, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan yang mengandalkan panel surya dan genset untuk menghidupkan perangkat di tengah ketiadaan listrik PLN. (Isti untuk Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Ketiadaan aliran listrik dari PLN dan akses jalan berlumpur tak membuat warga Dusun Bayur (RT 3), Desa Tundakan, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan menyerah. Di tengah keterbatasan tersebut, sebanyak 55 Kepala Keluarga (KK) memilih mandiri dengan mengoperasikan jaringan internet satelit (Starlink) bertenaga surya.

Layanan internet mandiri ini dipusatkan di sebuah warung desa yang kini beralih fungsi menjadi pusat komunikasi warga. Untuk menikmati akses dunia maya, warga cukup membeli voucer seharga Rp6.000 dengan masa aktif enam jam yang menjangkau radius 50 meter dari warung.

Secara teknis, operasional perangkat satelit ini murni mengandalkan panel tenaga surya. Sementara untuk kebutuhan mengisi daya ponsel pintar, warga mengandalkan mesin domping (pembangkit diesel) yang dihidupkan setiap sore hingga malam hari, atau menggunakan temaram lampu aki.

Ketua RT 3 Desa Tundakan, Supriadi, mengungkapkan bahwa inisiatif pemasangan internet satelit ini sudah berjalan sekitar dua tahun terakhir. Langkah ini terpaksa diambil karena beratnya tantangan geografis dusun yang berjarak tujuh kilometer dari pusat pemerintahan desa.

"Dua tahun lalu kami seperti hilang sama sekali dari dunia luar. Mau kasih kabar harus nitip pesan. Kalau ada pekerjaan dari luar, tidak bisa menetap di sini karena susah dihubungi," beber Supriadi.

Pada masa itu, demi mendapat satu hingga dua bar sinyal untuk mengirim pesan singkat (SMS), warga harus menempuh jalan sejauh tujuh kilometer yang berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan. Pilihan lainnya, warga terpaksa memanjat lereng gunung terdekat.

Kini, internet satelit tak sekadar mempermudah pekerjaan secara daring, melainkan menjadi alat mitigasi bencana yang sangat krusial bagi warga Dusun Bayur.

"Komunikasi sekarang jauh lebih mudah. Paling penting, informasi luapan air atau banjir jadi lebih cepat kami terima. Warga bisa langsung bersiap-siap sebelum air datang," syukurnya.

Di sisi lain, Supriadi menyebut warga tidak bisa bergantung pada infrastruktur jaringan internet gratis berupa menara triangle yang dibangun oleh Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Balangan.

"Jaringan Kominfo kadang bisa, kadang tidak. Dalam setahun belakangan saja sudah dua kali rusak total. Kami tidak bisa bergantung ke sana. Apabila internet satelit (Starlink) sedang mati, ya warga kembali terpaksa naik ke atas gunung," tegasnya.

Menanggapi kendala infrastruktur tersebut, Kepala Bidang Pengelolaan Aplikasi Informatika (Aptika) Diskominfosan Kabupaten Balangan, Murdiansyah, membenarkan adanya kerusakan pada menara triangle di Dusun Bayur yang dibangun pada 2024 lalu.

Murdiansyah menyatakan pihaknya berupaya melakukan perbaikan, namun saat ini penanganan terkendala oleh situasi efisiensi anggaran di instansinya.

Ke depan, belajar dari keberhasilan warga Dusun Bayur, Diskominfosan berencana mengubah pola infrastruktur ke desa-desa pelosok. Mereka menargetkan peralihan dari menara radio triangle yang rawan rusak ke perangkat internet satelit.

"Rencana ke depan dengan dukungan anggaran, polanya adalah Diskominfosan yang melakukan pembelian perangkat Starlink, dan pihak desa yang menganggarkan pembelian paket kuota bulanannya. Ini lebih efektif dan efisien karena tidak terhalang letak geografis," pungkas Murdiansyah.

Editor : M Oscar Fraby
Diskominfosan Balangan pln