Hujan Sudah Turun ! Tapi Kualitas Udara Banjarbaru Justru Memburuk dan Tidak Sehat

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:44 WIB
ASAP TEBAL: Karhutla yang masih terjadi di Banjarbaru menambah kualitas udara menjadi tidak sehat.
ASAP TEBAL: Karhutla yang masih terjadi di Banjarbaru menambah kualitas udara menjadi tidak sehat.

‎RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Kualitas udara di Kota Banjarbaru memburuk. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 melonjak hingga 127,3 µgram/m³ pada Senin (28/9/2026), membuat kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, kondisi tersebut terjadi sejak dini hari hingga pagi. Konsentrasi PM2.5 tercatat berada pada level mengkhawatirkan mulai pukul 00.00 hingga 09.00 WITA.

Puncak penurunan kualitas udara terjadi sekitar pukul 07.00 WITA. Pada waktu tersebut, konsentrasi PM2.5 mencapai 127,3 µgram/m³.

Dua Hari Terakhir Udara Banjarbaru Tidak Sehat

Kasi Pemantauan, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Tuti, membenarkan kondisi kualitas udara dalam dua hari terakhir berada pada tingkat tidak sehat.

“Untuk kemarin dan hari ini memang kondisi kualitas udara Kota Banjarbaru dalam kondisi tidak sehat,” ujar Tuti, Senin (28/9).

Kondisi tersebut terjadi di tengah aktivitas kabut asap yang masih berpotensi muncul akibat kebakaran lahan.

Hujan Belum Sepenuhnya Redam Ancaman Asap

Sejumlah wilayah Banjarbaru memang sempat diguyur hujan. Namun, menurut Tuti, hujan belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan pencemaran udara.

Air hujan memang dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat di udara, tetapi efeknya bersifat sementara. Intensitas hujan yang turun belakangan ini juga masih tergolong rendah dan belum merata.

Akibatnya, hujan belum maksimal membasahi lapisan tanah gambut bagian dalam yang masih rentan terbakar.

“Hujan memang dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat di udara, tetapi sifatnya tidak selalu permanen. Kondisi kualitas udara tetap harus dilihat berdasarkan hasil pemantauan PM2.5 atau ISPU,” jelasnya.

Potensi Kabut Asap Susulan Masih Ada

Belum sepenuhnya basahnya lapisan gambut membuat potensi munculnya kabut asap susulan masih cukup tinggi.

Karena itu, DLH Banjarbaru akan terus melakukan pemantauan kondisi kualitas udara di lapangan. Masyarakat juga diminta tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca atau melihat ada tidaknya kabut asap secara kasatmata.

Warga diimbau memantau informasi terbaru mengenai kualitas udara, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Pemantauan konsentrasi PM2.5 dan informasi ISPU menjadi salah satu acuan untuk mengetahui kondisi udara secara lebih akurat

Editor : Eddy Hardiyanto
tidak sehat banjarbaru kualitas udara