RADARBANJARMASINJAWAPOS.COM, MARABAHAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Kuala (Batola) tak hanya meninggalkan kepulan asap. Kobaran api juga menyasar lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Dinas Pertanian Batola mencatat, hingga 22 September 2026, karhutla berdampak terhadap 19,5 hektare tanaman padi dan 13.355 pohon jeruk.
Dari berbagai komoditas yang terdampak, tanaman jeruk menjadi perhatian serius. Sebab, sebagian tanaman yang terbakar bahkan sudah mendekati masa panen.
Kepala Dinas Pertanian Batola H Wahyu Wiguna mengatakan, selain padi dan cabai, jeruk menjadi komoditas yang paling banyak terdampak karhutla.
“Padi 19,5 hektare, kemudian ada cabai. Namun, yang terdampak luar biasa akibat karhutla ini adalah jeruk, sebanyak 13.355 batang,” ujarnya.
Ribuan Jeruk Terdampak, Sebagian Nyaris Panen
Tanaman jeruk yang terdampak tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Anjir Pasar, Cerbon dan Marabahan.
Dampak terbesar tercatat di Kecamatan Rantau Badauh dengan sekitar 7.275 pohon jeruk terdampak.
Selain jeruk dan padi, karhutla juga berdampak pada sejumlah tanaman hortikultura lainnya. Tercatat sekitar 0,3 hektare tanaman cabai, 10 pohon durian, 1.445 rumpun pisang, 49 pohon rambutan, 23 pohon nangka atau cempedak, serta 31 pohon mangga atau kuini ikut terdampak.
Wahyu mengaku prihatin melihat kondisi kebun jeruk yang terbakar. Terlebih, sebagian tanaman tersebut sudah berada di ambang panen.
“Ini yang membuat saya sedih. Di luar kuasa kami di dinas ini,” katanya.
Menurutnya, jeruk selama ini menjadi salah satu tumpuan penghasilan petani Batola ketika kemarau panjang membuat sawah sulit ditanami.
Saat lahan persawahan tidak bisa digarap akibat kekeringan, sebagian petani mengandalkan kebun jeruk untuk mendapatkan penghasilan.
“Kalau kemarau panjang seperti ini, ada yang gagal karena kekeringan dan tidak bisa bercocok tanam padi. Jeruk menjadi pengganti bagi petani untuk mendapatkan penghasilan. Dengan dampak karhutla ini, petani yang rugi,” jelasnya.
Tak Hanya Api, Air Asin Juga Mengancam
Di tengah ancaman karhutla, petani Batola juga menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni kekeringan dan intrusi air asin.
Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak awal September. Sebelumnya, petani masih dapat mengatasi kekeringan dengan menggunakan pompa untuk mendapatkan pasokan air.
Namun, ketika sumber air mulai berubah asin, penggunaan pompa justru berisiko merusak tanaman.
“Kalau kekeringan sawah bagi petani masih bisa dicari solusi dengan pompa air. Sekarang airnya asin sehingga tidak bisa lagi. Malah membuat padi rusak atau mati. Ini di luar kendali kami,” beber Wahyu.
Di Kecamatan Tabunganen, persoalan air asin disebut telah berdampak cukup luas. Sekitar 5.000 hektare lahan terdampak kondisi tersebut.
Sementara untuk tanaman padi yang terbakar, Dinas Pertanian Batola mencatat kerusakan tersebar di tiga kecamatan. Rinciannya, Tabukan sekitar 15 hektare, Tamban 3,5 hektare dan Mandastana 1 hektare.
Berbeda dengan wilayah Jejangkit. Petani di kawasan tersebut dinilai relatif mampu bertahan karena menggunakan varietas padi unggul dengan masa panen lebih cepat.
“Jejangkit menggunakan padi unggul, sehingga lebih cepat panen. Sebagian di wilayah Batola juga menggunakan padi unggul,” ujarnya.
Asuransi Jadi Jaring Pengaman Petani
Mengantisipasi kerugian akibat bencana, Dinas Pertanian Batola juga mengupayakan program asuransi tanaman padi, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi terdampak banjir seperti Jejangkit.
Wahyu mengatakan, pada 2025 lahan pertanian di Jejangkit telah diasuransikan. Ketika terjadi banjir dan tanaman mengalami kerusakan, petani dapat mengajukan klaim.
“Tahun itu bisa diklaim karena banjir. Penggantinya Rp3 juta per hektare, tetapi tidak full,” jelasnya.
Program tersebut kembali diupayakan tahun ini. Sekitar 100 hektare lahan tanaman padi di Jejangkit telah diajukan untuk mengikuti program asuransi.
Namun, musim tanam tahun ini berjalan relatif baik. Petani Jejangkit berhasil memanen padinya sehingga tidak ada klaim asuransi yang diajukan.
Kondisinya berbeda ketika banjir melanda dan menyebabkan tanaman mengalami kerusakan.
Pemerintah Siapkan Bantuan untuk Petani
Dampak karhutla terhadap tanaman hortikultura kini menjadi perhatian Dinas Pertanian Batola.
Wahyu mengaku tidak menyangka dampak karhutla tahun ini juga cukup besar terhadap tanaman hortikultura milik masyarakat.
“Untuk hortikultura saat ini kami mencoba mengajukan bantuan ke provinsi dan kementerian. Kami juga tidak menyangka tanaman hortikultura ikut terdampak tahun ini. Petani sendiri juga tidak mengira,” tuturnya.
Pihaknya kini mengupayakan bantuan benih dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kementerian Pertanian.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani kembali menanam setelah lahan dan tanaman mereka terdampak karhutla.
Sumber Api Masih Perlu Ditelusuri
Terkait sumber api, Wahyu menyebut sejumlah titik karhutla berada di sekitar lahan pertanian yang ditanami jeruk dan padi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani memiliki kepentingan besar untuk menjaga lahannya sendiri.
“Di samping tanaman padi ditanam jeruk. Jadi tidak mungkin mereka membakar, karena pasti dijaga. Sosialisasi soal larangan membakar lahan dan sisa panen juga sudah jauh-jauh hari kami lakukan,” katanya.
Ia menegaskan, dugaan sumber api pada sejumlah titik karhutla masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Namun, menurutnya, petani yang memiliki tanaman di lokasi tersebut tentu tidak memiliki kepentingan untuk membiarkan lahannya terbakar.
“Ini mutlak karena karhutla,” pungkas Wahyu.
Editor : Eddy Hardiyanto