RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Musim kemarau mulai membawa dampak serius bagi pembudi daya ikan di Kabupaten Balangan.
Penurunan debit sungai yang disertai memburuknya kualitas air membuat peternak keramba jaring apung harus menghadapi risiko kematian ikan hingga kerugian besar.
Kondisi sungai yang semakin dangkal dan bersuhu panas diduga memicu perubahan kualitas air, termasuk peningkatan kadar amonia. Ikan menjadi stres dan kekurangan oksigen sehingga kematian ikan mulai terjadi.
Sejumlah pembudi daya bahkan harus menghadapi masa panen yang molor. Kondisi itu membuat biaya pakan terus membengkak dan berpotensi menyebabkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Lampihong Jadi Wilayah Terdampak Paling Parah
Kondisi tersebut mendapat perhatian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Balangan.
Dinas mulai memetakan lokasi budi daya yang terdampak kemarau untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus menghimpun data kerugian peternak.
Kepala Bidang Perikanan DKP3 Balangan, Marlina Susanti, membenarkan Kecamatan Lampihong menjadi wilayah yang sejauh ini paling terdampak.
Namun, pemerintah daerah belum dapat memastikan total kerugian yang dialami pembudi daya.
“Kami masih belum ada data jumlah panen ikan untuk musim ini, dan belum ada perhitungan jumlah kerugian peternak. Hal ini karena masih belum ada laporan langsung dari peternak untuk kerugian tersebut, tapi kami sambil mengumpulkan data terkait hal itu,” jelas Marlina, Senin (21/9).
Belum Ada Bantuan Pakan maupun Kincir
Di tengah kondisi tersebut, pembudi daya berharap ada intervensi pemerintah, seperti bantuan pakan atau fasilitas kincir air untuk menjaga kadar oksigen dan menekan kematian ikan.
Namun, Marlina mengatakan saat ini belum ada alokasi bantuan fisik untuk kebutuhan tersebut.
Langkah yang dilakukan pemerintah masih berupa mitigasi dan imbauan kepada pembudi daya agar menyelamatkan ikan yang masih bisa dipanen.
“Tidak ada bantuan secara fisik. Cuma imbauan agar peternak selalu memantau keadaan perairan tempat mereka berbudi daya, dan mengimbau agar mereka bisa segera melakukan panen apabila ikan yang mereka pelihara sudah masuk ukuran konsumsi,” terangnya.
Menurutnya, langkah panen lebih awal diperlukan untuk mengurangi risiko ikan mati akibat kondisi perairan yang semakin memburuk.
Jadwal Tebar Benih Diminta Disesuaikan
Kemarau dan penyusutan debit sungai merupakan siklus yang terjadi setiap tahun. Karena itu, DKP3 Balangan meminta pembudi daya mulai menyesuaikan kalender budi daya dengan kondisi cuaca.
Marlina mengingatkan agar waktu tebar benih tidak terlalu dekat dengan periode kemarau. Dengan begitu, ikan dapat mencapai ukuran konsumsi sebelum kondisi perairan mengalami penurunan kualitas.
“Kami meminta peternak pembudi daya agar lebih memperhatikan jadwal tebar bibit mereka, agar waktu panennya jangan sampai memasuki waktu kemarau,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto