Harga Beras Lokal Banjarbaru Mulai Naik ! Kekeringan Kalsel Ancam Pasokan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 16:02 WIB
NAIK: Kenaikan harga beras di Banjarbaru dipicu kekeringan dan puso lahan pertanian di Kalsel.
NAIK: Kenaikan harga beras di Banjarbaru dipicu kekeringan dan puso lahan pertanian di Kalsel.

‎RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU — Harga beras lokal di Pasar Bauntung, Banjarbaru, mulai merangkak naik dalam sepekan terakhir.

Kenaikan terjadi pada sejumlah varietas beras lokal, mulai dari mayang, siam hanyar, jambun hingga Pamanukan. Pedagang menyebut kenaikan dipicu pasokan yang mulai tersendat dari sejumlah daerah sentra produksi.

Pedagang beras di Pasar Bauntung Banjarbaru, Muhammad Zuhdinoor, mengatakan kenaikan harga tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Kenaikan harga ini sudah terjadi sejak minggu lalu, bukan baru hari ini. Penyesuaian harganya bertahap, sedikit demi sedikit,” kata Zuhdinoor saat ditemui di lapaknya.

Menurutnya, harga beras lokal naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per liter dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.500 per liter.

Pasokan dari Sentra Produksi Mulai Tersendat

Zuhdinoor menyebut minimnya pasokan menjadi pemicu utama kenaikan harga.

Distribusi beras dari sejumlah wilayah sentra produksi mulai tidak lancar. Salah satunya dari kawasan Gambut yang selama ini menjadi salah satu pemasok beras lokal.

“Distribusinya memang kurang lancar karena stoknya kadang tersendat. Pasokan yang masuk dari wilayah seperti Gambut juga berkurang,” jelasnya.

Menurut Zuhdinoor, berkurangnya pasokan bukan disebabkan kebakaran lahan. Tanaman padi lebih dulu mengalami kerusakan akibat kekeringan sebelum memasuki masa panen.

“Kalau kebakaran lahan tidak ada, tapi tanaman padinya memang sudah rusak duluan kena kekeringan sebelum sempat dipanen,” katanya.

Kondisi tersebut mulai terasa hingga tingkat pedagang. Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, harga pun perlahan ikut terdorong naik.

11.699 Hektare Sawah Terdampak Kekeringan

Kondisi di pasar tersebut sejalan dengan ancaman kekeringan yang tengah menekan sektor pertanian Kalimantan Selatan.

Data Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalsel periode Januari hingga 15 September 2026 mencatat, luas tanaman padi yang terdampak kekeringan mencapai 11.699,8 hektare.

Dari jumlah tersebut, 4.448,4 hektare di antaranya dipastikan mengalami gagal panen total atau puso.

BPTPH Kalsel mencatat krisis air pada lahan persawahan mulai meningkat signifikan sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus.

Tanah Laut Jadi Daerah Paling Terdampak

Kabupaten Tanah Laut menjadi salah satu daerah lumbung pangan yang mengalami dampak paling besar.

Total area persawahan yang terdampak kekeringan di Tala mencapai 5.364,8 hektare. Dari jumlah tersebut, lahan yang mengalami puso mencapai 3.647,8 hektare.

Kerusakan paling besar terjadi pada Juli dan Agustus. Pada Juli tercatat 2.173,8 hektare lahan mengalami puso, sedangkan pada Agustus mencapai 1.474 hektare.

Daerah penopang pangan lainnya juga mengalami dampak serupa.

Di Kabupaten Barito Kuala, luas lahan terdampak kekeringan mencapai 2.066,3 hektare, dengan 111 hektare di antaranya mengalami puso.

Sementara di Kabupaten Banjar, dari 1.651,9 hektare sawah yang terdampak kekeringan, sebanyak 471,9 hektare mengalami puso.

Adapun di Kabupaten Tanah Bumbu, luas lahan yang terdampak mencapai 1.343,2 hektare, dengan 89,1 hektare di antaranya mengalami gagal panen.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak kekeringan tidak berhenti di lahan persawahan. Ketika produksi menurun dan pasokan dari daerah sentra ikut berkurang, tekanan mulai terasa hingga rantai distribusi dan harga beras di tingkat konsumen.

Editor : Eddy Hardiyanto
Harga beras banjarbaru Kalsel kekeringan