Budi Daya Ikan HST Terdampak Kemarau ! 8.000 Nila Mati

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:49 WIB
TERDAMPAK: Ribuan ikan mati di kolam milik pembudi daya di HST.
TERDAMPAK: Ribuan ikan mati di kolam milik pembudi daya di HST.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Musim kemarau mulai berdampak pada usaha budi daya ikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.

Salah satu yang terdampak adalah Kelompok Pembudi daya Ikan (Pokdakan) Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU).

Sekitar 8.000 ekor ikan nila milik kelompok tersebut mati setelah suhu air kolam meningkat akibat cuaca panas.

Misera, anggota Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak, mengatakan awalnya terdapat sekitar 10.000 ekor bibit nila yang dibudi dayakan menggunakan kolam terpal.

Namun, cuaca panas membuat suhu air kolam meningkat. Kondisi itu kemudian menyebabkan ribuan ikan mati.

“Yang mati sekitar 8.000 ekor. Awalnya ada 10.000 ekor, sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya, Sabtu (20/9/2026).

Ribuan Ikan Mati, Kerugian Belum Dihitung

Kematian ribuan ikan tersebut membuat kelompok pembudi daya mengalami kerugian. Namun, hingga kini nilai kerugian belum dihitung secara pasti.

“Untuk kerugian, belum dihitung,” ujar Misera.

Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi kelompok karena ikan yang dibudi dayakan sebelumnya diharapkan dapat memberikan hasil saat memasuki masa panen.

Empat Pokdakan Dilaporkan Terdampak

Dampak kemarau ternyata tidak hanya dirasakan Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) HST melalui Kabid Perikanan, Syaifuddin Noor, mengatakan sedikitnya empat kelompok pembudi daya ikan telah melaporkan terdampak cuaca panas dan kekeringan.

“Untuk sementara, ada empat kelompok yang sudah melaporkan terdampak. Dampaknya berbeda, ada kolam yang mengalami kekeringan dan ada juga ikan yang mati karena suhu air meningkat,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).

Selain Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak, dampak kemarau juga dirasakan Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS).

Kedua kelompok tersebut membudidayakan ikan gabus atau haruan menggunakan kolam tanah.

Kemarau membuat debit air di kolam semakin berkurang. Kondisi itu mengganggu keberlangsungan kegiatan budi daya ikan.

Kolam Tanah dan Terpal Punya Risiko Berbeda

Dampak kemarau terhadap pembudi daya ikan tidak selalu sama. Jenis kolam yang digunakan turut menentukan persoalan yang dihadapi.

Pokdakan Mufakat di Desa Mahang Baru, Kecamatan LAS, misalnya, juga mengalami dampak kemarau. Kelompok tersebut membudidayakan ikan haruan menggunakan kolam tanah.

Selain menghadapi kenaikan suhu, kelompok itu juga kesulitan mendapatkan air untuk mempertahankan kondisi kolam.

Syaifuddin menjelaskan, kolam tanah lebih rentan mengalami penurunan ketersediaan air ketika kemarau berlangsung.

Sementara kolam terpal menghadapi persoalan berbeda, yakni suhu air yang dapat meningkat akibat cuaca panas.

“Kalau kolam tanah, kendalanya air yang semakin berkurang karena kekeringan. Sedangkan pada kolam terpal, cuaca panas membuat suhu air meningkat sehingga bisa menyebabkan ikan mengalami kematian,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat kemarau menjadi tantangan bagi pembudi daya ikan di HST. Selain menjaga ketersediaan air, pembudi daya juga harus mengantisipasi perubahan suhu kolam agar ikan tetap dapat bertahan.

Editor : Eddy Hardiyanto
budi daya kemarau ikan mati HST