Ombak Kotabaru Capai 2 Meter, Nelayan Rampa Terpaksa Pulang Lebih Cepat

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:00 WIB
PULANG: Daripada menantang maut di laut Kotabaru, nelayan di Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut Utara terpaksa pulang karena ombak besar.
PULANG: Daripada menantang maut di laut Kotabaru, nelayan di Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut Utara terpaksa pulang karena ombak besar. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Laut sedang tak bersahabat bagi nelayan di Desa Rampa, Kabupaten Kotabaru. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat aktivitas melaut harus dilakukan dengan penuh perhitungan.

Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan, Senin (14/9/2026) siang, sejumlah nelayan memilih tidak melaut. Namun, sebagian lainnya tetap berangkat demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi nelayan, kondisi gelombang menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan meninggalkan daratan. Sebab, sekali berada di tengah laut, perubahan cuaca bisa membuat perjalanan pulang menjadi jauh lebih berisiko.

Hamdani, salah seorang nelayan Desa Rampa, menjadi salah satu yang memilih pulang lebih cepat setelah merasakan langsung ganasnya gelombang.

“Saya tadi pagi ke laut sekitar pukul 04.00 Wita. Sekitar pukul 09.00 Wita terpaksa pulang karena ombak sangat besar,” ujar Hamdani.

Ia melaut di sekitar perairan Tanjung Dewa dan Tanjung Pemancingan. Dari Desa Rampa, lokasi tersebut dapat ditempuh sekitar 30 menit.

Menurut Hamdani, ketinggian gelombang saat itu diperkirakan mencapai sekitar dua meter. Kondisi biasanya semakin berbahaya ketika memasuki siang hari.

“Kalau sudah lewat pukul 12.00 Wita, biasanya ombak bisa lebih dari dua meter. Untung tadi cepat pulang,” katanya.

Gelombang Tinggi Berhadapan dengan Kebutuhan Hidup

Meski kondisi laut berbahaya, tidak semua nelayan memilih tinggal di rumah.

Sebagian tetap nekat melaut karena kebutuhan ekonomi. Bagi mereka, tidak pergi ke laut berarti tidak ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hamdani mengatakan, hasil melaut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya sekolah anak hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau diminta tidak melaut, tidak mungkin juga. Ini kebutuhan hidup. Anak perlu sekolah, belanja, dan dapur harus tetap jalan,” tuturnya.

Selain gelombang tinggi, harga bahan bakar minyak (BBM) eceran yang mencapai Rp15 ribu per liter juga menjadi beban tersendiri bagi nelayan.

Pernah Terjebak Ombak, Memilih Berlindung di Pesisir

Puluhan tahun menjadi nelayan membuat Hamdani cukup memahami karakter laut. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya menganggap remeh gelombang besar.

Ia mengaku pernah tetap berada di laut ketika kondisi ombak memburuk. Dalam situasi seperti itu, keselamatan menjadi taruhan.

Jika gelombang terlalu tinggi, nelayan biasanya memilih mencari pesisir terdekat untuk berlindung. Mereka bahkan bisa bermalam di pesisir dan menunda perjalanan pulang hingga kondisi kembali aman.

“Kadang kami berlindung di pesisir. Tidak jarang juga bermalam dan tidak pulang. Padahal kalau kondisi normal, perjalanan pulang hanya sekitar satu jam. Tetapi kalau ombak besar bisa lebih dari tiga jam,” jelasnya.

Kondisi laut yang ekstrem juga bukan tanpa risiko. Hamdani mengatakan, kapal nelayan asal Desa Rampa yang rusak bahkan pecah dihantam gelombang bukan kejadian yang asing.

Ia juga menceritakan pengalaman anaknya yang berusia lebih dari 22 tahun saat melaut seorang diri. Dalam sebuah kejadian, sang anak bahkan sempat harus mengapung di laut.

Nelayan Berharap Dilengkapi Jaket Pelampung

Pengalaman tersebut membuat Hamdani berharap perhatian terhadap keselamatan nelayan lebih ditingkatkan.

Salah satu yang dinilai mendesak adalah bantuan alat keselamatan berupa jaket pelampung.

Menurutnya, perlengkapan keselamatan sangat penting bagi nelayan, terutama ketika harus menghadapi kondisi laut yang sulit diprediksi.

“Harapan kami pemerintah atau pihak mana pun bisa memberikan bantuan jaket pelampung untuk nelayan,” katanya.

Hamdani juga mengingatkan nelayan lainnya agar tidak memaksakan diri ketika kondisi laut mulai membahayakan.

Jika gelombang membesar, nelayan disarankan segera mencari pesisir terdekat untuk berlindung dan meminta bantuan apabila situasi sudah tidak memungkinkan.

“Kalau ombak sudah besar, cepat-cepat ke pesisir terdekat. Jangan memaksakan pulang dan segera minta bantuan kalau memang sudah tidak memungkinkan,” tutupnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
Kotabaru Ombak Rampa Nelayan