RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PELAIHARI - Saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian biasanya tertuju pada kobaran api dan asap yang mengepul.
Namun, di balik itu ada orang-orang yang harus terus berada di tengah panas, asap, dan medan sulit untuk memastikan api tidak semakin meluas.
Mereka adalah petugas dan relawan yang berjibaku di lapangan.
Perjuangan tersebut turut mendapat perhatian komunitas Gerakan Sedekah Infaq Pelaihari (GSIP). Melalui program Project Dukung Pemadam Karhutla, GSIP menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah posko penanganan karhutla.
Bekal Sederhana untuk Mereka di Garis Depan
Bantuan disalurkan ke Posko Induk Kabupaten yang berada di wilayah Tambang Ulang, Bati-Bati, dan Gunung Raja.
Logistik yang diberikan memang sederhana. Namun, barang-barang tersebut merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi petugas yang harus berlama-lama berada di lokasi kebakaran.
Di antaranya air mineral, cairan untuk mencegah dehidrasi, vitamin, permen, obat tetes mata, hingga biskuit.
Air minum dan makanan ringan mungkin terlihat sepele. Tetapi di tengah medan kebakaran, bekal tersebut dapat membantu menjaga kondisi fisik petugas agar tetap mampu menjalankan tugas.
Apalagi, paparan panas dan asap membuat proses pemadaman semakin menguras tenaga.
Masyarakat Ikut Pastikan Petugas Tak Berjuang Sendirian
Ketua GSIP, Alfirial, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada petugas dan relawan yang menjadi garda terdepan dalam penanganan karhutla.
“Kami memberikan dukungan kepada petugas dalam pemadaman karhutla. Mereka, baik petugas maupun relawan, merupakan garda terdepan dalam upaya meminimalkan meluasnya karhutla,” katanya, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, dukungan kepada petugas tidak harus selalu dalam jumlah besar.
Memenuhi kebutuhan sederhana selama mereka berada di lapangan juga menjadi bentuk keterlibatan masyarakat dalam membantu penanganan karhutla.
“Kami berharap bantuan tersebut bisa sedikit meringankan kebutuhan petugas sekaligus menambah semangat mereka dalam menjalankan tugas,” ucapnya.
Bagi para petugas dan relawan, perhatian tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan mereka di tengah kepungan api dan asap tidak luput dari perhatian masyarakat.
Di Balik Api yang Padam, Ada Tenaga yang Terkuras
Pemadaman karhutla bukan pekerjaan mudah.
Di balik setiap titik api yang berhasil dikendalikan, ada tenaga yang terkuras. Ada petugas dan relawan yang harus bekerja dalam kondisi panas, menghirup asap, serta menghadapi medan yang tidak selalu mudah dijangkau.
Karena itu, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi penyemangat bagi mereka yang berada di garis depan.
“Dan kali ini, kepedulian datang dari masyarakat untuk memastikan mereka yang berada di garis depan tidak berjuang sendirian,” tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto