Berawal dari Persoalan Limbah, INSAN Kotabaru Kini Beranggotakan 638 Nelayan

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 14:24 WIB
NELAYAN: Kapal Balapan nelayan di Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut Utara. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin)
NELAYAN: Kapal Balapan nelayan di Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut Utara. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kepentingan nelayan tradisional.

Organisasi tersebut lahir dari persoalan yang dihadapi nelayan di perairan Tanjung Pemancingan. Pada awal Juli 2003, sejumlah nelayan mulai menggagas pembentukan wadah bersama untuk menyikapi persoalan pembuangan limbah batuan yang disebut berasal dari aktivitas salah satu perusahaan semen. 

Dampaknya dirasakan langsung para nelayan. Mulai dari menurunnya hasil tangkapan, rusak dan hilangnya alat tangkap, berkurangnya waktu efektif melaut hingga meningkatnya biaya operasional, terutama kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

Perubahan lokasi tangkap yang semakin jauh membuat nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk melaut.

Atas kondisi tersebut, INSAN kemudian secara resmi dibentuk pada 3 September 2003. Saat awal berdiri, organisasi ini diketuai Arbani Nikahi dengan jumlah anggota sebanyak 176 nelayan tradisional.

Perkembangan organisasi cukup pesat. Memasuki awal 2004, jumlah anggota disebut telah mencapai 967 kepala keluarga yang tersebar di lima desa, yakni Desa Semayap, Rampa, Dirgahayu, Kotabaru Hulu dan Kotabaru Tengah.

Dalam perjalanannya, kepemimpinan INSAN mengalami pergantian. Setelah Arbani Nikahi meninggal dunia, posisi ketua kemudian dilanjutkan Zainal Abidin.

Zainal Abidin memimpin organisasi tersebut hingga wafat pada 2024. Setahun kemudian, kepemimpinan INSAN dilanjutkan Hamdani.

Di bawah kepemimpinan Hamdani, organisasi mulai melakukan pembenahan internal sekaligus pendataan dan pendisiplinan anggota. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat organisasi dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi nelayan.

“Memasuki 2025, kami melakukan pendisiplinan anggota. Tujuannya untuk menjawab berbagai permasalahan internal maupun eksternal organisasi,” kata Ketua INSAN Kotabaru, Hamdani.

Saat ini, jumlah anggota INSAN tercatat sebanyak 638 orang. Organisasi juga mulai mendapat minat dari nelayan di luar Kecamatan Pulau Laut Utara untuk bergabung.

Di antaranya nelayan dari Desa Rampa, Kecamatan Pulau Sebuku, Desa Rampa Cengal, Kecamatan Pamukan Selatan, serta sejumlah desa lainnya di wilayah Kabupaten Kotabaru.

Menurut Hamdani, perkembangan tersebut menunjukkan masih adanya kebutuhan nelayan terhadap wadah organisasi yang dapat menjadi tempat menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan mereka.

“Ke depan kami ingin INSAN tetap menjadi wadah nelayan untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan anggota, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan nelayan,” ujarnya.

Saat ini, struktur organisasi INSAN Kotabaru terdiri dari Hamdani sebagai ketua, H Sabran sebagai sekretaris dan H Japarruddin sebagai bendahara.

Sekretariat INSAN berada di Jalan 27 Juni RT 014 RW 05, Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru.

Dua dekade lebih sejak dibentuk, INSAN terus berupaya mempertahankan keberadaannya sebagai organisasi nelayan yang lahir dari persoalan nyata di lapangan.

Dari 176 nelayan saat awal berdiri, organisasi tersebut kini menjadi wadah bagi ratusan nelayan Kotabaru yang memiliki kepentingan dan persoalan yang beragam. 

“Ini adalah tempat atau wadah tempat kami berkumpul, baik untuk bersilaturahmi, berdiskusi sampai menyatakan sikap,” tutupnya. 

Editor : Sutrisno
Kotabaru Nelayan