RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai menunjukkan hasil nyata dalam menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Hujan yang turun di sejumlah wilayah setelah OMC tahap pertama digelar sejak Sabtu (5/9) membuat jumlah titik panas atau hotspot turun drastis.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, H Rahmi, mengatakan intervensi cuaca tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kondisi karhutla di lapangan.
Berdasarkan pemantauan BPBD, hujan mengguyur wilayah Balangan pada tiga hari berbeda dengan durasi sekitar 15 hingga 30 menit.
"Ini berdampak sekali terhadap titik api, terjadi penurunan yang signifikan. Sebelum dilakukan operasi hujan buatan, bisa terjadi 30 sampai 50 lebih kejadian karhutla. Dengan adanya OMC, titik api menurun signifikan," ungkap Rahmi, Kamis (10/9).
Hotspot Anjlok dari Puluhan Menjadi Tiga
Dampak hujan hasil modifikasi cuaca terlihat dari grafik hotspot yang terus menurun.
Setelah OMC dimulai, jumlah hotspot yang sebelumnya mencapai puluhan turun menjadi 14 titik. Angka tersebut kembali menyusut menjadi enam titik hingga akhirnya tersisa tiga titik pada Kamis (10/9).
"Setelah dilakukan OMC yang dimulai sejak Sabtu lalu, pantauan kami berangsur turun menjadi 14 titik, yang kemudian turun lagi menjadi 6 titik. Per hari ini, sisa ada 3 titik hotspot. Ini terlihat sekali dampak OMC tahap pertama sangat efektif," beber Rahmi.
Turunnya hotspot menjadi angin segar bagi tim gabungan yang sebelumnya harus berjibaku menangani puluhan kejadian karhutla, termasuk kebakaran di kawasan lahan gambut.
60 Karhutla, Lebih dari 204 Hektare Terbakar
Di balik keberhasilan menekan hotspot, ancaman karhutla di Balangan masih cukup serius.
BPBD mencatat hingga 7 September 2026 sudah terjadi 60 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 204,265 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di seluruh kecamatan.
"Per tanggal 7 September lalu, kita telah menangani 60 kejadian karhutla dengan luasan lahan yang terbakar mencapai 204,265 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan," jelas Rahmi.
Dua wilayah menjadi penyumbang kejadian terbanyak. Lampihong dan Batumandi masing-masing tercatat mengalami 15 kejadian karhutla.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik wilayah yang memiliki kawasan lahan gambut dan relatif rawan terbakar saat musim kemarau.
"Tertinggi tetap Lampihong dan Batumandi. Lampihong ada 15 kejadian, Batumandi juga 15 kejadian. Keduanya merupakan lahan gambut," tegasnya.
Hotspot Turun, Satgas Diminta Tak Lengah
Meski hotspot kini tersisa tiga titik, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat dan seluruh tim penanganan karhutla untuk tidak menganggap persoalan telah selesai.
Status siaga darurat karhutla dan kekeringan di Kabupaten Balangan masih berlangsung. Potensi munculnya kembali titik api tetap terbuka selama kondisi kemarau dan lahan kering masih terjadi.
Karena itu, patroli di kawasan rawan akan terus dilakukan. Edukasi kepada masyarakat mengenai larangan membuka lahan dengan cara membakar juga akan diperkuat.
Hujan hasil OMC memang mampu memberi jeda bagi tim di lapangan. Namun, pencegahan tetap menjadi kunci agar tiga titik hotspot yang tersisa tidak kembali berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Editor : Eddy Hardiyanto