RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengganggu aktivitas belajar di sekolah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banjarmasin ikut terdampak.
Produksi makanan yang biasanya mencapai sekitar 147 ribu hingga 148 ribu paket per hari kini anjlok menjadi hanya 33.726 paket.
Artinya, produksi MBG turun sekitar 77 persen setelah sebagian besar sekolah penerima manfaat menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat memburuknya kualitas udara.
Koordinator Wilayah SPPG Banjarmasin, Cahyadi, mengatakan sekitar 30 SPPG terdampak kebijakan PJJ yang berlaku sejak Senin (7/9) hingga Rabu (9/9).
“Kalau yang terdampak ada sekitar 30 SPPG di Banjarmasin,” ujar Cahyadi, Selasa (8/9/2026).
Sekolah Beralih PJJ, Distribusi MBG Ikut Berhenti
PJJ diterapkan mengikuti kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjarmasin sebagai respons terhadap kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap.
Sekolah yang berada di bawah kewenangan Pemko Banjarmasin, mulai PAUD, TK, SD hingga SMP, tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kondisi tersebut otomatis membuat distribusi MBG untuk kelompok sekolah tersebut dihentikan sementara.
Berbeda dengan SMA dan SMK yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Cahyadi mengatakan hingga kini belum ada surat khusus dari pemerintah provinsi yang memerintahkan penghentian kegiatan belajar akibat karhutla.
Karena itu, distribusi MBG untuk SMA sederajat mengikuti keputusan masing-masing kepala sekolah.
Jika sekolah masih menggelar pembelajaran tatap muka karena kondisi dinilai aman, SPPG tetap mendistribusikan makanan. Namun, ketika sekolah memilih menerapkan PJJ, distribusi MBG dihentikan.
“Sekarang produksi paket makanan cuma 33.726,” kata Cahyadi.
Menurutnya, paket tersebut terutama dialokasikan untuk siswa SMA sederajat yang masih mengikuti pembelajaran tatap muka.
Dapur dan Supplier Ikut Terdampak
Anjloknya produksi juga berimbas pada mekanisme pembayaran dalam program MBG.
Dapur SPPG dan mitra tidak mendapatkan pembayaran ketika tidak memberikan pelayanan. Begitu pula dengan pemasok bahan makanan yang pembayarannya mengikuti kegiatan operasional dapur.
“Kalau misalkan ada operasional saja baru dibayar. Jadi kalau tidak ada pelayanan, maka sewa tidak dibayarkan,” jelas Cahyadi.
Skema tersebut menerapkan prinsip no service, no pay. Artinya, ketika distribusi dihentikan sementara, produksi sekaligus sejumlah biaya operasional juga ikut berhenti.
Berharap Kembali Normal Kamis
Meski produksi turun drastis, kondisi tersebut diharapkan hanya berlangsung sementara.
Cahyadi mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Disdik Banjarmasin terkait perkembangan kebijakan PJJ dan kondisi udara.
Berdasarkan evaluasi kondisi kabut asap dalam dua hari terakhir, terdapat kemungkinan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan pada Kamis (10/9).
“Asap sudah berkurang sekarang. Kemungkinan bisa distribusi ke sekolah lagi. Cuma kami masih menunggu kabar resmi dari Disdik,” ungkapnya.
Jika sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka, distribusi MBG pun diharapkan kembali meningkat dan mendekati kondisi normal.
Editor : Eddy Hardiyanto