RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus memacu transformasi ekonomi daerah dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi pemain kunci rantai pasok nasional hingga global.
Langkah strategis ini ditopang lewat akselerasi dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di wilayah timur, yakni KEK Setangga di Kabupaten Tanah Bumbu dan KEK Mekar Putih di Kabupaten Kotabaru.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, Suprapti Tri Astuti, mengungkapkan bahwa keberadaan kedua kawasan tersebut dirancang secara terintegrasi untuk memperkuat ekosistem industri, hilirisasi, dan logistik regional.
Langkah ini diambil agar Kalsel mampu mengambil peran lebih besar dalam alur produksi nasional. "Arah besarnya adalah menjadikan Kalsel sebagai Gerbang Logistik Kalimantan, sekaligus penopang utama Ibu Kota Nusantara. Kami memosisikan Kalsel tidak lagi sekadar pengekspor bahan mentah, tetapi masuk jauh dalam rantai pasok, mulai dari produksi, pengolahan atau hilirisasi, logistik, perdagangan, hingga ekspor," kata Suprapti, Minggu (6/9).
KEK Setangga yang memiliki luas 668 hektare kini mulai menunjukkan realisasi fisik di lapangan. Pembangunan jalan di dalam kawasan industri tersebut telah terbangun sekitar 25 persen. Sementara itu, akses jalan utama menuju kawasan sepanjang kurang lebih 10 kilometer telah rampung dikerjakan untuk menunjang mobilisasi barang.
Suprapti menjelaskan bahwa KEK Setangga akan terhubung langsung dengan kawasan industri di sekitarnya serta ditopang infrastruktur perhubungan yang solid.
"KEK Setangga kami arahkan terintegrasi dengan Kawasan Industri Batulicin. Kawasan ini nantinya didukung oleh dermaga atau jetty, konektivitas dengan Bandara Bersujud Batulicin, serta Pelabuhan Ferry Batulicin dan Tanjung Serdang," jelasnya.
Sedangkan, KEK Mekar Putih yang membentang seluas 1.600 hektare di dua kecamatan dan sembilan desa Kotabaru disiapkan menjadi pusat pelabuhan skala internasional.
Kawasan ini memiliki keunggulan alur perairan alami dengan kedalaman lebih dari 20 meter, sehingga memungkinkan kapal-kapal kargo raksasa berukuran 150.000 hingga 200.000 DWT untuk bersandar.
"Khusus Mekar Putih, kawasan tersebut diharapkan menjadi outlet logistik bagi Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, dan Pulau Kalimantan secara umum. Konektivitas Batulicin, Kotabaru, dan Mekar Putih ini berpotensi membentuk satu ekosistem ekonomi terpadu yang mengintegrasikan kawasan industri dengan pelabuhan internasional," papar Suprapti.
Tingkatkan Ekspor, Tekan Impor
Sementara itu, dari sisi komersial dan nilai tambah, KEK Setangga diproyeksikan memberi dampak ekonomi melimpah hingga 2030 mendatang. Sektor yang dikembangkan meliputi pengolahan nikel atau smelter, CPO dan turunannya, pabrik karet, plywood, besi, pergudangan, hingga pusat penelitian dan pengembangan.
Berdasarkan kajian Bappeda Kalsel, potensi nilai ekspor KEK Setangga hingga 2030 diperkirakan mencapai Rp10,30 triliun dari komoditas nickel matte, Rp1,13 triliun dari sektor besi, Rp349,32 miliar dari karet, dan Rp4,35 miliar dari plywood.
Selain ekspor, kawasan ini berpotensi menekan angka impor nasional lewat nilai substitusi impor biodiesel sebesar Rp12,27 triliun serta fraksinasi mencapai Rp2,64 triliun.
Di sisi lain, KEK Mekar Putih diarahkan untuk merambah industri energi dan kimia modern. Sektor potensial yang digarap meliputi synthetic gas, semi-coke, karbon aktif, pengolahan pasir silika, hingga hilirisasi smelter nikel untuk mendukung pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pengembangan masif di wilayah timur Kalsel ini diharapkan tidak hanya melipatgandakan PDRB daerah, tetapi juga efektif pemerataan ekonomi serta mengurangi ketimpangan antarwilayah.