RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Desa Kersik Putih, Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, tengah disiapkan menjadi kawasan ekowisata mangrove.
Kementerian Lingkungan Hidup RI melalui Program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) memberikan dukungan Rp100 juta kepada Kelompok Hutan Tani Mangrove Kebersamaan Desa Kersik Putih.
Bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan kawasan mangrove, mulai dari pembibitan, pembangunan pos pengelolaan informasi, gazebo wisata hingga gerbang masuk kawasan.
Bantuan diserahkan Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove Kota Pontianak Yunus Sudaryanti.
Pemerintah Desa Kersik Putih tidak ingin mangrove hanya dipandang sebagai kawasan yang harus dijaga. Ekosistem tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Mangrove Tak Hanya untuk Konservasi
Kepala Desa Kersik Putih Rudi Hartono mengatakan, pengembangan mangrove harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, konservasi perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan perekonomian warga.
“Kersik Putih ini bukan memikirkan nanti bagaimana untuk perkembangan mangrovenya saja, tapi bagaimana caranya kita meningkatkan dari lini sektornya. Salah satu meningkatkan ekonomi,” ujarnya.
Pemdes Kersik Putih telah menerima master plan dan kajian pengembangan kawasan mangrove.
Dalam rencana tersebut, kawasan mangrove Kersik Putih diarahkan tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga dikembangkan menjadi agrowisata mangrove.
Siapkan Penanaman 15 Hektare
Sebagai langkah awal, pemerintah desa menyiapkan penanaman mangrove sekitar 15 hektare.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan tidak hanya memberi manfaat ekologis, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan mangrove yang bisa diterapkan desa-desa pesisir lainnya.
Bagi Kersik Putih, keberadaan mangrove memiliki nilai strategis. Selain membantu menjaga kawasan pesisir, ekosistem tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang wisata sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Namun, pengembangan tersebut tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat agar aktivitas ekonomi tidak justru mengancam kelestarian mangrove.
Belajar dari Mangrove Center Balikpapan
Salah satu contoh pengelolaan mangrove yang memadukan konservasi dan ekonomi dapat dilihat di Mangrove Center Graha Indah, Balikpapan.
Kawasan tersebut mulai direhabilitasi sejak 2001 dan kemudian berkembang menjadi ekowisata sekaligus ruang bagi masyarakat mengembangkan usaha berbasis hasil nonkayu mangrove.
Warga mengembangkan berbagai produk, mulai dari kopi, teh hingga makanan olahan.
Sebagian masyarakat lainnya memperoleh penghasilan dari jasa perahu, pemandu wisata serta aktivitas perikanan.
Model tersebut menunjukkan bahwa menjaga mangrove tidak harus berhadapan dengan kepentingan ekonomi masyarakat.
Sebaliknya, ketika ekosistem dijaga dan dikelola dengan baik, kawasan mangrove justru dapat membuka berbagai peluang usaha baru.
Kersik Putih Ingin Ikuti Konsep Ekowisata
Konsep tersebut sejalan dengan rencana pengembangan Kersik Putih.
Rudi mengatakan, kawasan mangrove nantinya diharapkan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang yang melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi ekonomi yang tersedia.
Artinya, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penonton dalam pengembangan kawasan.
Warga diharapkan menjadi bagian dari pengelolaan, mulai dari pembibitan, perawatan mangrove hingga berbagai aktivitas ekonomi yang muncul seiring berkembangnya kawasan wisata.
Jika konsep tersebut berjalan konsisten, mangrove Kersik Putih bukan hanya menjadi benteng ekologis pesisir.
Kawasan ini berpeluang tumbuh menjadi destinasi wisata berbasis konservasi sekaligus sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Tantangannya kini adalah memastikan pengembangan wisata dan ekonomi tetap berada dalam koridor keberlanjutan. Sebab, nilai terbesar kawasan tersebut tetap terletak pada mangrove yang harus dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Editor : Eddy Hardiyanto