RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PELAIHARI - Aset daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Laut (Tala).
Pemkab Tala mulai memetakan sejumlah aset yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi. Langkah tersebut mendapat dukungan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Tala.
Pemetaan dilakukan melalui kegiatan Tour Investasi Pemanfaatan Aset, Kamis kemarin. Wakil Bupati Tala H Muhammad Zazuli memimpin langsung peninjauan ke sejumlah lokasi, di antaranya Rumah Kemasan, kawasan Masjid Gunung Kayangan, dan Puncak Gunung Kayangan.
Jajaran SKPD terkait turut mengikuti kegiatan tersebut, bersama Ketua HIPMI Tala Evan Zachari Asher.
Pemkab Tala berharap aset yang selama ini belum produktif tidak lagi sekadar menjadi beban pemeliharaan. Jika dikelola secara tepat, aset tersebut diharapkan mampu menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Aset Jangan Berhenti Jadi Beban Anggaran
Pemetaan aset menjadi langkah awal. Namun, tantangan sesungguhnya adalah memastikan aset tersebut benar-benar dapat dikembangkan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Status hukum, kondisi fisik, kebutuhan investasi, potensi pasar, hingga skema kerja sama dengan pihak swasta harus dikaji secara matang.
Hal itu penting agar aset yang sudah dipetakan tidak kembali menjadi aset tidur karena terbentur persoalan administrasi, keterbatasan pembiayaan, atau tidak adanya model pengelolaan yang jelas.
Wakil Bupati Tala H Muhammad Zazuli menilai kolaborasi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci untuk mengoptimalkan aset daerah.
“Maka itu, yang paling penting itu kita niati, kita buat satu kekuatan kolektif bersama-sama, pemerintah daerah mana, pihak swasta mana, kolaborasi lah,” ujarnya.
HIPMI Siap Ubah Aset Tidur Jadi Pusat Ekonomi
Ketua HIPMI Tala Evan Zachari Asher menyambut positif langkah Pemkab Tala tersebut.
Menurutnya, aset daerah yang terbengkalai seharusnya tidak dibiarkan menjadi beban anggaran. Dengan konsep bisnis yang tepat, aset tersebut justru bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Aset yang terbengkalai ini jangan dibiarkan hanya jadi beban anggaran, tapi harus diubah menjadi pusat ekonomi baru, aset tidur harus bisa menjadi sumber PAD,” tegasnya, Jumat (4/9/2026).
Evan menyebut sejumlah aset, termasuk eks gedung kantor, berpotensi dikembangkan menjadi berbagai ruang produktif.
Di antaranya creative hub, co-working space, pusat UMKM hingga sentra logistik.
Namun, tidak semua aset otomatis memiliki nilai bisnis yang sama. Setiap lokasi tetap membutuhkan kajian mengenai kebutuhan masyarakat, potensi pasar, biaya pengembangan, serta kemampuan pengelolanya.
Transparansi Jadi Kunci Kerja Sama
Selain aspek bisnis, transparansi dalam pemanfaatan aset daerah juga menjadi hal penting.
Setiap kerja sama dengan pihak swasta perlu memiliki aturan yang jelas. Mulai dari nilai aset, jangka waktu kerja sama, hak dan kewajiban para pihak hingga besaran manfaat yang diterima pemerintah daerah.
Mekanisme yang terbuka diperlukan agar investasi dapat berjalan dengan sehat tanpa mengabaikan kepentingan pemerintah daerah maupun masyarakat.
Dengan pengelolaan yang tepat, aset yang selama ini tidak menghasilkan justru dapat berubah menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah.
HIPMI Siap Kaji Model Bisnis
HIPMI Tala menyatakan siap mengambil bagian dalam proses tersebut.
Bukan hanya dalam aspek investasi, HIPMI juga menawarkan keterlibatan dalam mengkaji model bisnis bersama Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).
“Kami di HIPMI tidak hanya siap secara investasi, tapi siap mengkaji model bisnisnya agar PAD naik, lapangan kerja terbuka, dan aset daerah terjaga,” kata Evan.
Langkah ini menjadi pekerjaan lanjutan bagi Pemkab Tala. Setelah aset dipetakan, pemerintah perlu menentukan mana yang paling layak dikembangkan, model bisnis yang sesuai, serta mitra yang tepat.
Sebab, keberhasilan pemanfaatan aset bukan hanya diukur dari seberapa banyak aset yang berhasil ditawarkan kepada investor, tetapi dari seberapa besar aset tersebut akhirnya mampu memberi manfaat bagi daerah dan masyarakat.
Editor : Eddy Hardiyanto