Uji Pola Tanam Baru di Banjarmasin, Petani Ditarget Bisa Panen 1,5 Kali Setahun

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 13:34 WIB
DI SAWAH: Petani di Banjarmasin membawa hasil panen padi dari lahan pertanian di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
DI SAWAH: Petani di Banjarmasin membawa hasil panen padi dari lahan pertanian di Kecamatan Banjarmasin Selatan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Banjarmasin mulai menguji pola tanam baru untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian.

Melalui program Pertanian Modern Model Advance Agriculture System (PM-AAS) dari pemerintah pusat, lahan pertanian yang selama ini hanya dimanfaatkan sekali dalam setahun ditargetkan bisa ditanami hingga sekitar satu setengah kali.

Uji coba perdana akan dilakukan di lahan seluas lima hektare di kawasan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.

Dalam program ini, pemerintah mencoba varietas padi berumur pendek yang diproyeksikan dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah masa tanam.

Jika berhasil, setelah panen lahan dapat kembali dimanfaatkan untuk musim tanam berikutnya.

Andalkan Padi Siam Madu Berumur Pendek

Kepala Bidang Pertanian DKP3 Banjarmasin Jenderawati mengatakan, pola tanam tersebut masih dalam tahap percobaan.

Keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan varietas padi beradaptasi dengan kondisi lahan dan ketersediaan air di Banjarmasin.

“Habis panen tanam lagi. Sebenarnya sesuai dikatakan bukan dua kali, tapi jadi satu setengah. Tanam bulan September, target bisa panennya di tiga bulan ke depannya,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Varietas yang digunakan adalah Siam Madu, hasil persilangan karakter padi Siam dan Jawa.

Varietas ini dipilih karena memiliki masa panen lebih singkat dibandingkan sejumlah varietas lokal yang membutuhkan waktu hingga enam bulan.

Namun, cepat panen bukan satu-satunya pertimbangan.

DKP3 juga harus memastikan tanaman mampu bertahan menghadapi karakter lahan Banjarmasin yang bisa mengalami kekeringan, tetapi di sisi lain juga berpotensi terendam ketika debit air meningkat.

Untuk menentukan varietas yang paling sesuai, DKP3 berkonsultasi dengan Balai Perakitan dan Pengujian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) di Banjarbaru.

“Karena kita ini harus kuat terendam, perakarannya kuat. Kita cari jenisnya yang memang kuat tahan,” kata Jenderawati.

Kemarau Panjang Jadi Ujian

Uji coba PM-AAS dilakukan ketika sektor pertanian Banjarmasin tengah menghadapi tantangan berat.

Kemarau panjang membuat sejumlah lahan kekurangan air. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Banjarmasin Selatan yang menjadi kawasan pertanian cukup besar di Kota Banjarmasin.

Kawasan tersebut berada di daerah rendah dan dekat dengan sungai besar. Namun, kondisi geografis itu tidak selalu menjadi keuntungan ketika pasokan air berkurang drastis.

Di kawasan Tanjung Pagar, misalnya, petugas menemukan lahan pertanian yang mengalami kekeringan hingga tanahnya retak atau bekang.

Kondisi tersebut mengancam pertumbuhan tanaman sekaligus berpotensi menekan hasil panen petani.

“Yang paling menjadi tantangan itu kekurangan kapasitas air sebenarnya,” ungkap Jenderawati.

Tak Hanya Kekeringan, Tungro Mengintai

Persoalan pertanian Banjarmasin juga tidak berhenti pada masalah air.

DKP3 menemukan adanya serangan penyakit tungro pada tanaman padi di sejumlah lokasi.

Jenderawati menjelaskan, penyakit tersebut tidak selalu membuat tanaman mati. Namun, tungro dapat menyebabkan sebagian bulir padi tidak terisi sempurna.

Tanaman tetap terlihat hidup dan mampu menghasilkan, tetapi produktivitasnya menurun karena sebagian bulir kosong.

“Tidak mematikan langsung, tetapi tetap menghasilkan. Produksinya berkurang karena bulirnya ada yang kosong,” jelasnya.

Untuk memastikan serangan tersebut, DKP3 menurunkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke lapangan.

Petugas melakukan pemeriksaan berdasarkan laporan petani sekaligus memberikan penanganan awal untuk mencegah serangan meluas.

Menurut Jenderawati, tanaman yang masih terlihat hijau belum tentu menjamin hasil panen maksimal.

Sebagian bulir padi bisa tetap kosong meskipun tanaman tidak mengalami kerusakan secara keseluruhan.

Pompa Air Jadi Andalan

Di tengah ancaman kekeringan, DKP3 mengandalkan mobilisasi pompa untuk membantu pengairan lahan.

Pemerintah memiliki dua rumah pompa yang dapat digunakan untuk menyalurkan air ke lahan pertanian yang masih memungkinkan diselamatkan.

“Kalau tanaman sudah rusak total tentu lebih sulit. Yang masih hidup ini yang kita coba bantu,” tegasnya.

Produksi padi Banjarmasin saat ini rata-rata berada di kisaran 10.000 hingga 11.000 ton per tahun. Sementara produktivitas lahan berkisar tiga hingga lima ton per hektare.

Dengan kondisi tersebut, DKP3 tidak hanya berupaya menyelamatkan tanaman dari kekeringan maupun serangan penyakit.

Uji coba PM-AAS juga menjadi upaya mencari pola tanam yang lebih cocok dengan karakter pertanian perkotaan Banjarmasin.

Menunggu Hasil Saat Panen

Program PM-AAS mendapat dukungan pemerintah pusat berupa bantuan bibit dan sarana produksi pertanian.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan modal awal petani yang mengikuti uji coba.

Namun, keberhasilan program belum bisa dipastikan sebelum tanaman memasuki masa panen.

Cuaca, ketersediaan air, kemampuan varietas beradaptasi dengan lahan, hingga serangan organisme pengganggu tanaman akan menjadi faktor penentu.

Jenderawati menyebut program ini memang merupakan langkah percobaan untuk melihat apakah pola tanam tersebut benar-benar cocok diterapkan di Banjarmasin.

“Namanya mencoba. Kalau memang ada cukup waktu, mudah-mudahan berhasil,” harapnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
Pola Tanam petani banjarmasin