Kotabaru Serius Petakan Potensi Geopark, Ini Upayanya

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 13:20 WIB
Peninjauan langsung Geosite Tumpang 2, salah satu kawasan yang masuk dalam pengembangan Geopark Saijaan Bersujud. (Foto: Prokopim Setda Kotabaru)
Peninjauan langsung Geosite Tumpang 2, salah satu kawasan yang masuk dalam pengembangan Geopark Saijaan Bersujud. (Foto: Prokopim Setda Kotabaru)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru– Tak banyak yang menyadari, Kabupaten Kotabaru menyimpan warisan geologi yang bernilai penting. Kekayaan alam tersebut kini mulai ditata agar tidak sekadar menjadi objek wisata, tetapi juga terjaga sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Pemkab Kotabaru sekarang mulai memperkuat tata kelola Geopark Saijaan Bersujud dengan menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur peran masing-masing perangkat daerah.

Pembahasan dilakukan dalam rapat penyusunan SOP tata kelola geopark sekaligus pengenalan Geosite Tumpang 2 Tahun 2026 di Ruang Kerja Asisten Administrasi Umum Lantai III Setda Kotabaru, Selasa (1/9) siang. 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke Geosite Tumpang 2. Lokasinya relatif dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Kotabaru sore harinya. 

Asisten Administrasi Umum Setda Kotabaru Anang Muhammad Zen mengatakan, penyusunan SOP penting agar pengelolaan geopark tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Melalui Bagian Organisasi perlu ada SOP sehingga menegaskan siapa atau SKPD mana mengerjakan apa sesuai dengan amanah dan kewenangannya,” ujarnya, Rabu (2/9)

Menurut Zen, pengembangan geopark menyangkut banyak sektor. Mulai dari perlindungan geologi, lingkungan, pendidikan, pariwisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat hingga pembangunan infrastruktur.

Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas perangkat daerah agar pengelolaannya berjalan terpadu.

Langkah tersebut juga menjadi tindak lanjut Peraturan Bupati Kotabaru Nomor 75 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Geopark. Regulasi itu menekankan pentingnya sinergi antar perangkat daerah dalam mengembangkan Geopark Saijaan Bersujud.

“Tidak bisa hanya satu perangkat daerah. Semua memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya,” jelasnya.

Selain membahas tata kelola, peserta juga diperkenalkan dengan Geosite Tumpang 2. Kawasan ini menjadi salah satu bagian dari Geopark Saijaan Bersujud yang memiliki nilai ilmiah berkaitan dengan bentang alam dan sejarah geologi Kotabaru.

Geosite tersebut kini turut dikembangkan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kotabaru sebagai salah satu destinasi wisata daerah.

Kabag Organisasi Setda Kotabaru M Octo Brahma Yogayana mengatakan, penyusunan SOP mengacu antara lain pada PermenPAN-RB Nomor 19 Tahun 2018 tentang Penyusunan Peta Proses Bisnis Instansi Pemerintah dan PermenPAN-RB Nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan SOP Administrasi Pemerintahan.

Pertama, SOP perencanaan dan penganggaran kolaboratif antarinstansi. Kedua, SOP pembentukan dan operasional tim koordinasi geopark.

Ketiga, SOP kolaborasi pendanaan dan sinergi dunia usaha melalui tanggung jawab sosial dunia usaha serta sumber pembiayaan kreatif. Keempat, SOP pemantauan, evaluasi dan pelaporan pengembangan geopark melalui dashboard.

Yoga menegaskan, penyusunan SOP tahap awal masih berfokus pada tata kelola. Belum masuk pada teknis pengembangan tiga pilar geopark.

Perumusan kebijakan dan koordinasi berada pada kewenangan bupati dan sekretaris daerah. Sementara pemantauan, evaluasi dan pelaporan kinerja akan mendapat dukungan dari sekretaris daerah.

Untuk pengembangan teknis tiga pilar geopark, nantinya akan melibatkan sejumlah perangkat daerah sesuai bidang masing-masing.

Bagi Kotabaru, keberadaan geopark bukan semata-mata soal menambah destinasi wisata.

Lebih jauh, geopark menjadi upaya mengenali, melindungi dan memperkenalkan warisan geologi yang selama ini ada di Bumi Saijaan.

“Potensi ini dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat dan generasi muda, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis alam dan pengetahuan,” beritahunya.

Pemkab Kotabaru berharap pengelolaan Geopark Saijaan Bersujud dapat berjalan lebih terarah, terkoordinasi dan berkelanjutan.

“Ketika sebuah kawasan memiliki nilai geologi yang penting, menjaga kawasan tersebut bukan hanya soal hari ini. Ada warisan alam yang harus dipastikan tetap bisa dipelajari dan dinikmati generasi Kotabaru di masa depan,” tutupnya.

Editor : M Oscar Fraby
Kotabaru Saijaan geopark