RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Bumbu terus menjadi perhatian. Sepanjang 2026 hingga 24 Agustus, tercatat 47 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 140,35 hektare.
Tak hanya itu, sebanyak 390 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut. Data ini tercantum dalam dashboard bencana karhutla Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan.
Tanah Bumbu Masuk Wilayah Rawan
Secara keseluruhan, dashboard BPBD Kalsel mencatat 1.873 kejadian karhutla di seluruh provinsi. Luas lahan yang terdampak mencapai 8.942,16 hektare, dengan total 10.430 titik panas.
Di Tanah Bumbu, sebaran titik panas terdeteksi di lima kecamatan. Yakni Batulicin, Simpang Empat, Kusan Tengah, Kusan Hulu, dan Mantewe.
Banyaknya titik panas menunjukkan potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. Terlebih, sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau petugas.
Akses Terisolasi, Selang Tak Menjangkau Api
Kepala BPBD Tanah Bumbu Sulhadi mengatakan proses pemadaman di sejumlah lokasi tidak mudah. Salah satu kendala utama yang dihadapi satgas darat adalah akses menuju titik api.
“Kalau aksesnya terisolasi, selang pemadam kami tidak bisa menjangkau titik api utama,” kata Sulhadi.
Kondisi tersebut membuat petugas harus mencari cara lain agar api dapat dikendalikan. Medan yang sulit dijangkau juga membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan dukungan peralatan lebih besar.
Sumber Air Jadi Kendala Berikutnya
Kesulitan pemadaman semakin berat ketika sumber air di sekitar lokasi kebakaran terbatas. Petugas harus mencari sumber air yang masih tersedia untuk memasok armada pemadam.
Di kawasan Gunung Tinggi, misalnya, petugas terbantu dengan keberadaan parit yang masih memiliki debit air. Air tersebut dimanfaatkan sebagai suplai untuk mendukung proses pemadaman.
Dengan 390 titik panas yang terdeteksi sepanjang tahun ini, kewaspadaan terhadap karhutla di Tanah Bumbu masih harus ditingkatkan. Akses yang sulit dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan yang membuat penanganan kebakaran tidak bisa dilakukan secara cepat di semua lokasi.
Jika kondisi kering terus berlangsung, titik api berpotensi kembali muncul. Karena itu, pemantauan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas.
Editor : Eddy Hardiyanto