Kisah Sintia Bella, Anak Yatim dari HSU yang Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan

M Akbar Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:48 WIB
HARU: Ketua TP PKK HSU Hj. Murniati Sahrujani, Ketua GOW HSU Mayang Melani Setiawan memeluk Sintia Bella, anggota Paskibraka HSU seusai pengukuhan di Gedung Idham Khalid, Sabtu (15/8/2026). 
HARU: Ketua TP PKK HSU Hj. Murniati Sahrujani, Ketua GOW HSU Mayang Melani Setiawan memeluk Sintia Bella, anggota Paskibraka HSU seusai pengukuhan di Gedung Idham Khalid, Sabtu (15/8/2026). 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Tepuk tangan dan kebanggaan mengiringi pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) di Gedung Idham Khalid, Sabtu (15/8/2026) malam.

Namun, di antara puluhan putra-putri terpilih yang bersiap mengemban tugas pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu sosok yang menyimpan kisah berbeda.

Namanya Sintia Bella. Siswi MA Bustanul Ulum asal Desa Rantau Karau Hilir, Kecamatan Babirik, itu berdiri di antara teman-temannya setelah prosesi pengukuhan.

Baca Juga: Kemarau Mengganas, Pasokan Sembako Terancam, Ini kata Disperdagin Banjarmasin

Ketika para anggota Paskibraka lain berhamburan mencari orang tua dan keluarga untuk berbagi pelukan serta kebahagiaan, Sintia justru berdiri seorang diri.

Tak Ada Ayah dan Ibu

Tak ada ayah. Tak ada ibu yang menunggunya. Pemandangan itu seketika mengubah suasana haru menjadi lebih dalam.

Di tengah kerumunan keluarga yang memenuhi Gedung Idham Khalid, Sintia seolah menyimpan kebahagiaannya sendiri.

Ia telah berhasil melewati proses panjang hingga dipercaya menjadi salah satu anggota Paskibraka HSU. Namun, pada momen yang semestinya menjadi ruang berbagi kebanggaan bersama keluarga, ia tidak memiliki orang tua untuk dipeluk.

Baca Juga: Melampaui Target, 165 Anak dari Tiga Provinsi Ramaikan Happy Race Pusbike 2026 di Banjarbaru

Pemandangan tersebut menarik perhatian Ketua TP PKK HSU Hj. Murniati Sahrujani, Ketua GOW HSU Mayang Melani Setiawan, dan Ketua DWP HSU Hj. Mislena Marangkir Lesmana.

Ketiganya kemudian menghampiri Sintia. Tanpa banyak kata, pelukan hangat diberikan. Sintia dipeluk, dikuatkan, dan disemangati. Tangis haru pun pecah. Pelukan itu bukan sekadar bentuk perhatian, melainkan seolah menjadi pesan bahwa Sintia tidak sendirian.

Ia tetap memiliki orang-orang yang bangga atas perjuangannya.

Jadi Adegan Paling Menyentuh

Momen sederhana itu menjadi salah satu adegan paling menyentuh dalam pengukuhan Paskibraka HSU. Di tengah kebahagiaan para anggota Paskibraka yang berkumpul bersama keluarga, Sintia justru mendapatkan pelukan dari tiga perempuan yang hadir memberikan dukungan.

Baca Juga: Sungai Amandit Surut, Batu Ampar Diserbu Warga untuk Liburan di HSS

Tak lama berselang, Bupati HSU H. Sahrujani turut menghampiri Sintia.

Dengan penuh kehangatan, bupati memberikan semangat dan motivasi. Sintia diminta tetap tegar, percaya diri, serta menjalankan amanah sebagai anggota Paskibraka dengan sebaik-baiknya.

Dari keterangan pelatih Paskibraka, Sintia diketahui merupakan anak yatim. Selama ini, ia tinggal bersama neneknya.

Kisah tersebut membuat keberhasilan Sintia menjadi anggota Paskibraka terasa semakin istimewa. Di tengah keterbatasan keluarga, ia mampu menembus seleksi dan berdiri sejajar dengan putra-putri terbaik lainnya untuk membawa nama HSU pada momentum bersejarah bangsa.

Jadi Pembuktian, Keterbatasan Bukan Alasan

Menjadi Paskibraka bukan sekadar mengenakan seragam dan berdiri tegap di hadapan tiang bendera. Bagi Sintia, perjalanan itu menjadi pembuktian bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Baca Juga: Warga CPS II HSU Punya Cara Unik Rayakan Kemerdekaan, Beragam Suku Jalan Sehat Bersama

Ada perjuangan yang mungkin tidak selalu terlihat. Ada kesunyian yang mungkin tidak selalu terdengar. Namun, di balik langkah tegapnya nanti, tersimpan kisah seorang anak yang memilih terus berjalan meski tidak lagi memiliki orang tua untuk menyaksikan pencapaiannya.

Pelukan Hj. Murniati Sahrujani, Mayang Melani Setiawan, dan Hj. Mislena Marangkir Lesmana menjadi pengingat bahwa kebanggaan tidak selalu datang dari keluarga sedarah.

Kadang, ia hadir dari tangan-tangan yang tiba-tiba merangkul. Dari kata-kata yang menguatkan. Dari seseorang yang berkata tanpa suara: kamu tidak sendiri.

Bupati HSU Berikan Semangat

Kehadiran Bupati H. Sahrujani yang turut memberikan semangat semakin melengkapi momen tersebut.

Bagi sebagian orang, pelukan itu mungkin sederhana. Namun, bagi Sintia, boleh jadi menjadi salah satu kenangan yang akan dibawa jauh setelah tugas Paskibraka usai.

Sebab, pada hari ketika anak-anak lain menemukan keluarganya di tengah kerumunan, Sintia menemukan sesuatu yang tidak kalah berarti yakni dukungan.

Dan dari sanalah ia kembali berdiri. Lebih tegak. Lebih tegar. Menyambut tugasnya mengibarkan Sang Merah Putih dengan membawa satu pesan penting berupa perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Editor : Sutrisno
HSU Amuntai paskibraka