Hotspot di Tapin Melonjak Enam Kali Lipat, Ancaman Karhutla Makin Nyata

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:03 WIB

 

PADAMKAN: Personel gabungan saat memadamkan api yang membakar hutan dan lahan. BPBD Tapin mencatat selama tiga bulan terakhir terdapat 1.335 titik panas.
PADAMKAN: Personel gabungan saat memadamkan api yang membakar hutan dan lahan. BPBD Tapin mencatat selama tiga bulan terakhir terdapat 1.335 titik panas.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tapin semakin meningkat. Dalam kurun Mei hingga Juli 2026, jumlah titik panas (hotspot) melonjak hampir enam kali lipat, menjadi sinyal kuat meningkatnya risiko kebakaran saat musim kemarau.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin mencatat, selama tiga bulan terakhir terdapat 1.335 titik panas. Rinciannya, Mei sebanyak 155 titik, Juni naik menjadi 404 titik, dan Juli kembali melonjak hingga 776 titik.

Kepala Pelaksana BPBD Tapin, Muhammad Nor, mengatakan tren kenaikan tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Jika dibandingkan Mei, jumlah titik panas hingga sekarang meningkat hampir enam kali lipat. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan," ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Berdasarkan hasil pemetaan BPBD, Kecamatan Tapin Selatan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak sepanjang Juli, yakni 328 titik. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Lokpaikat dengan 238 titik, sementara sisanya tersebar di sejumlah kecamatan lain.

Muhammad Nor menjelaskan, hasil pengecekan di lapangan menunjukkan sebagian besar titik panas berada di kawasan pertambangan, sedangkan sisanya ditemukan di area semak belukar.

Meski tidak semua hotspot berkembang menjadi kebakaran, setiap titik panas tetap dipantau secara intensif karena berpotensi memicu karhutla apabila tidak segera ditangani.

BPBD bersama instansi terkait terus memperkuat patroli dan pemantauan di daerah rawan, terutama di tengah musim kemarau yang menyebabkan kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar aturan, tindakan tersebut dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama saat angin bertiup kencang.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Jika melihat asap atau titik api, segera laporkan agar bisa segera ditangani," tegas Muhammad Nor.

Editor : Eddy Hardiyanto
Hotspot karhutla Tapin