6.691 Hektar Sawah Dilanda Kekeringan, BPTPH Kalsel Berikan Pengawalan dan Pendampingan Pda Petani

Sutrisno • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:29 WIB
KEKERINGAN: Kondisi lahan pertanian di Banua. BPTPH Kalsel mencatat seluas 6.691 hektare sawah alami kekeringan akibat musim kemarau. 
(MC KALSEL) 
KEKERINGAN: Kondisi lahan pertanian di Banua. BPTPH Kalsel mencatat seluas 6.691 hektare sawah alami kekeringan akibat musim kemarau.  (MC KALSEL) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat seluas 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan hingga akhir Juli 2026. 

Dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino itu bahkan menyebabkan sebagian tanaman mengalami puso. 

Kepala BPTPH Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan pihaknya terus melakukan pengawalan dan pendampingan kepada petani melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), baik dalam penanganan hama dan penyakit tanaman maupun mitigasi dampak perubahan iklim.

"Sesuai prediksi BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September, bahkan berpotensi berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino," ujarnya.

Berdasarkan data BPTPH per 31 Juli 2026, lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 6.691 hektare dengan luas puso sekitar 1,3 hektare. Sementara itu, pada komoditas jagung, kekeringan terjadi di lahan seluas 5,5 hektare dan hingga kini belum dilaporkan adanya tanaman yang mengalami puso.

Lestari menjelaskan, wilayah terdampak paling luas berada di Kabupaten Tanah Laut, yakni 3.383 hektare. Selanjutnya Kabupaten Barito Kuala seluas 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Kabupaten Tanah Bumbu 446 hektare.

Adapun lahan puso tercatat berada di Kabupaten Barito Kuala seluas 1 hektare dan Kota Banjarbaru seluas 0,3 hektare. Di Banjarbaru sendiri, total lahan yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 150 hektare. "Selama suhu udara masih tinggi dan hujan belum turun, luas lahan yang terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah," kata Lestari. 

 

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPTPH telah menginstruksikan seluruh petugas POPT agar terus memantau ketersediaan sumber air di kawasan persawahan. Koordinasi juga dilakukan bersama dinas pertanian kabupaten/kota serta Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang masih tersedia melalui sistem pompanisasi.

Khusus di kawasan lahan pasang surut seperti Kabupaten Barito Kuala yang memiliki sumber air dengan tingkat keasaman tinggi, BPTPH mendorong pemanfaatan sumur pertanian sebagai alternatif pengairan. 

Menghadapi musim kemarau, Lestari mengimbau petani yang telah selesai panen agar tidak membakar sisa tanaman. Sebagai gantinya, ia mendorong penerapan Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan memanfaatkan jerami sebagai bahan kompos. Cara tersebut dinilai dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi risiko terjadinya kebakaran lahan. (al/ris) 

Wilayah Terdampak Paling Luas

- Tanah Laut: 3.383 Hektare
- Barito Kuala: 1.919 Hektare
- Banjar: 622 Hektare
- Tanah Bumbu: 446 Hektare
- Banjarbaru: 150 Hektare

Editor : Arief
BPTPH Kalsel kalimantan selatan sawah pertanian