RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Ratusan siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat se-Kabupaten Balangan diajak keluar dari ruang kelas untuk belajar sejarah secara langsung, Rabu (5/8). Mereka dibawa berkeliling mendatangi empat tempat bersejarah di Balangan.
Empat tempat yang didatangi rombongan pelajar dari 26 sekolah ini adalah Rumah Bubungan Tinggi di Desa Tarangan, Masjid Syuhada di Desa Hujan Mas, Rumah Batu Muara Ninian di Kecamatan Juai, dan Makam Datu Kandang Haji di Desa Teluk Bayur.
Sepanjang perjalanan, para siswa didampingi tim ahli dan komunitas Nanang Galuh Balangan untuk mendapat penjelasan sejarah tentang objek yang dikunjungi.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan, Rosma Hilda mengatakan kegiatan turun langsung ini dirancang untuk membuat pelajaran sejarah lebih menarik.
Selain mengunjungi lokasi peninggalan masa lalu, para siswa juga mengikuti lomba cerdas cermat untuk menguji apa yang sudah mereka pelajari di lapangan.
"Tujuan utamanya agar anak-anak mengenal lebih dekat budaya yang ada di Balangan, khususnya peninggalan situs sejarah. Kami berharap setelah pulang dari sini mereka punya rasa peduli untuk ikut menjaga peninggalan leluhur," kata Rosma.
Untuk membuat kegiatan ini lebih seru bagi anak muda, proses belajar sejarah rupanya juga dikaitkan dengan kebiasaan mereka bermain media sosial sehari-hari.
Pamong Budaya Disdikbud Balangan, Halianur menyebutkan bahwa pihaknya menggelar lomba membuat video bagi para peserta. Anak-anak ditantang untuk merekam dan menceritakan pengalaman seru mereka saat melihat langsung bangunan bersejarah tersebut.
"Kami ingin anak-anak tidak cuma datang melihat, tapi juga ikut menceritakan tempat sejarah kita ke orang banyak lewat video yang mereka buat. Jadi mereka ikut mempromosikan daerahnya," jelas Halianur.
Selama berkeliling membuat video, cerita masa lalu yang diberikan kepada anak-anak ini dipastikan tepat dan tidak asal-asalan. Perwakilan Tim Ahli Cagar Budaya Balangan, Darma Setiawan menjelaskan bahwa bahan cerita yang dibagikan merujuk pada aturan resmi, yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Ia bertugas menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang nilai penting dari tiap bangunan tua yang didatangi para siswa hari itu.
"Tempat-tempat bersejarah ini dilindungi oleh aturan negara. Kami memberi pengertian ke anak-anak bahwa menjaga bentuk asli bangunan peninggalan itu adalah tugas kita bersama agar ceritanya tidak hilang," ucap Darma.
Cara belajar dengan terjun langsung ke lapangan ini rupanya mendapat tanggapan sangat baik dari pihak sekolah karena dianggap jauh dari kata membosankan.
Salah satu guru pendamping dari SMP Negeri 2 Juai, Muhammad Nashir mengaku melihat antusiasme yang berbeda dari murid-muridnya. Anak didiknya terlihat sangat bersemangat saat membuat tugas video sejarah memakai gaya mereka sendiri.
"Kegiatan ini sangat membantu pelajaran di kelas, apalagi untuk pelajaran IPS. Suasana belajar jadi tidak kaku, dan kami sebagai guru juga ikut bertambah ilmunya soal sejarah daerah sendiri," tutur Nashir.
Cara belajar dengan turun langsung mendatangi bukti sejarah semacam ini diharapkan bisa sering dilakukan ke depannya. Lewat pendekatan yang lebih santai dan sesuai dengan gaya anak muda, sejarah lokal diharapkan bisa terus bertahan di ingatan generasi penerus dan tidak hilang tergerus kebiasaan baru.
Editor : M Oscar Fraby