RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menghadirkan Program Nutrisi HELIO sebagai inovasi edukasi dan pendampingan bagi pasien tuberkulosis (TB) di Puskesmas Kelayan Timur, Banjarmasin, beberapa waktu lalu.
Program yang diketuai dr. Fidya Rahmadhany Arganita, Sp.P bersama dosen dan mahasiswa ini bertujuan memperkuat keberhasilan pengobatan TB melalui edukasi nutrisi, peningkatan literasi kesehatan, serta pembentukan perilaku hidup sehat selama menjalani terapi.
Nama HELIO diambil dari kata helios yang berarti matahari. Filosofi tersebut menggambarkan harapan agar setiap pasien TB memperoleh pendampingan yang memberi semangat untuk terus menjalani pengobatan hingga tuntas.
Ketua Tim Pengabdian, dr. Fidya Rahmadhany Arganita, Sp.P mengatakan, Program Nutrisi HELIO hadir sebagai pendamping terapi medis, bukan sebagai pengganti pengobatan tuberkulosis.
"Obat antituberkulosis (OAT) tetap menjadi terapi utama dan satu-satunya pengobatan yang terbukti dapat menyembuhkan tuberkulosis apabila diminum sesuai regimen hingga tuntas. Nutrisi HELIO hadir sebagai pendamping untuk membantu pasien menjalani pengobatan dengan kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang lebih baik melalui edukasi nutrisi, peningkatan literasi kesehatan, serta pembentukan perilaku hidup sehat," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan workshop penggunaan booklet edukasi Mentari Kelayan yang diikuti 20 tenaga kesehatan dan kader sebagai garda terdepan dalam mendampingi pasien di masyarakat.
Selanjutnya, tim memberikan edukasi kepada pasien TB menggunakan bahasa sederhana dan ilustrasi yang mudah dipahami. Sebagai bentuk penguatan, booklet edukasi juga dihibahkan kepada Puskesmas Kelayan Timur, disertai pengenalan Kartu HELIO-Monitor sebagai media sederhana untuk membantu memantau kebiasaan sehat pasien selama menjalani pengobatan.
Menurut dr. Fidya, keberhasilan penanganan TB selain ditentukan oleh kepatuhan mengonsumsi obat, tetapi juga dipengaruhi pemahaman pasien terhadap penyakit, status gizi, serta dukungan lingkungan.
"Target eliminasi TB tidak dapat dicapai hanya dengan fasilitas obat yang tersedia. Kita juga memerlukan masyarakat yang memiliki literasi kesehatan yang baik, tenaga kesehatan yang mampu mengedukasi secara berkelanjutan, kader yang teredukasi mendampingi, serta keluarga yang menjadi sumber dukungan bagi pasien," katanya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status gizi yang baik berperan dalam mendukung sistem imun dan proses pemulihan pasien TB. Selain itu, penelitian di Kalimantan Selatan juga menemukan masih banyak pasien TB mengalami defisiensi vitamin D. Karena itu, edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang, konsumsi protein yang mudah dijangkau, serta paparan sinar matahari yang aman menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan terapi.
Melalui Program Nutrisi HELIO, tim berharap inovasi berbasis pelayanan kesehatan primer ini dapat memperkuat upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia dengan menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga memberdayakan pasien agar mampu menjalani proses penyembuhan secara optimal.
Editor : Nurhidayat