Hotspot Muncul di Perbatasan Kabupaten, Tim TRC BPBD HSU Pikul Mesin Pompa Menembus Lahan Gambut

M Akbar Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:26 WIB
BERJIBAKU: Anggota TRC BPBD HSU memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Pawalutan, Kecamatan Banjang. (Foto: BPBD HSU) 
BERJIBAKU: Anggota TRC BPBD HSU memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Pawalutan, Kecamatan Banjang. (Foto: BPBD HSU) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Titik panas muncul di kawasan perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Hulu Sungai Tengah (HST).

Laporan dari BPBD HST segera diteruskan ke BPBD HSU karena lokasi kebakaran berada di wilayah Desa Pawalutan, Kecamatan Banjang, yang berbatasan langsung dengan dua kabupaten.

Tanpa menunggu lama, satu regu Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD HSU diterjunkan menuju lokasi kebakaran semak dan lahan gambut, Kamis (23/7/2026). Medan yang sulit membuat perjalanan tidak semudah biasanya.

Kepala Pelaksana BPBD HSU H Syamrani membenarkan adanya upaya pemadaman di lahan milik warga di Desa Pawalutan. Menurut dia, lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut yang berada di sekitar kebun masyarakat.

“Alhamdulillah, respons yang cepat dan koordinasi yang baik membuat api dapat segera dipadamkan,” ujarnya kepada media ini, Jumat (24/7/2026). 

Tantangan terbesar bukan hanya menemukan titik api, tetapi juga menjangkaunya. Kendaraan roda empat tidak dapat masuk ke area kebakaran karena akses jalan yang sempit dan berlumpur.

Anggota TRC BPBD HSU Iqbal mengatakan, seluruh peralatan harus dibawa dengan tenaga manusia.

“Mesin pompa portable beserta selang pemadam kami angkut dengan berjalan kaki menuju lokasi,” katanya.

Setibanya di lokasi, tim mendapati api tidak hanya membakar permukaan semak, tetapi juga merambat di bawah tanah. Karakter lahan gambut membuat bara tersembunyi di dalam retakan tanah sehingga pemadaman harus dilakukan secara khusus.

Petugas kemudian menyemprotkan air langsung ke celah-celah tanah untuk mematikan sumber api yang berada di bawah permukaan.

Beruntung, di sekitar lokasi masih terdapat jalur air yang belum mengering. Sumber air itu dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan pemadaman sehingga proses penanganan dapat berlangsung lebih cepat.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa musim kemarau membuat kawasan gambut di HSU rawan terbakar. Api yang tampak kecil di permukaan dapat menyimpan bara di bawah tanah dan berpotensi menyala kembali jika tidak dipadamkan hingga tuntas.

BPBD HSU mengimbau masyarakat, terutama pemilik kebun di sekitar lahan gambut, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan asap atau titik api sekecil apa pun.

Koordinasi lintas kabupaten juga dinilai penting karena kebakaran di wilayah perbatasan dapat dengan cepat meluas ke daerah lain.

Editor : Sutrisno
karhutla HSU Amuntai