Embung Gunung Tirawan Meyusut, Pasokan Air Bersih di Kotabaru Mulai Terdampak

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:14 WIB
Ilustrasi kekeringan. Foto: Gemini/Google
Ilustrasi kekeringan. Foto: Gemini/Google

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU - Dampak musim kemarau mulai dirasakan secara signifikan di Kabupaten Kotabaru. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotabaru mencatat adanya penurunan drastis pada debit dan ketinggian pasokan air baku di seluruh fasilitas instalasi pengolahan, Kamis (23/7).

Berdasarkan data resmi  yang diumumkan PDAM Kotabaru, penurunan kapasitas air menyasar hampir seluruh titik sumber air baku utama. Penurunan paling parah terjadi di Intake Mandin, di mana debit air yang biasanya menyentuh 135 liter per detik (L/d) kini anjlok menjadi hanya 20 L/d.

Kondisi serupa terjadi di berbagai sumber air baku lainnya, seperti Intake Gunung Sari yang turun dari normal 40 L/d menjadi 15 L/d, DAM Gunung Ulin dari 40 L/d menjadi 10 L/d, serta Intake Gunung Perak yang menyusut drastis dari 10,5 L/d menjadi tersisa 1 L/d.

Penurunan debit juga tercatat di DAM 2 Tirawan dari 15 L/d menjadi 10 L/d, dan DAM Mini Tirawan yang turun dari 14 L/d menjadi 10 L/d.

Selain debit aliran, tinggi muka air di waduk penampungan turut menyusut signifikan. Waduk Gunung Ulin yang biasanya berada di angka normal 600 cm kini menyisa 430 cm.

Sementara Embung Gunung Tirawan menyusut dari 700 cm menjadi 625 cm, dan Intake Sebelimbingan dari 240 cm menjadi 192 cm. Direktur PDAM Kotabaru, Tri Basuki membenarkan bahwa penyusutan air baku ini berdampak langsung pada kapasitas produksi dan distribusi air bersih kepada pelanggan.

“Sehubungan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung, debit air pada sumber air baku mengalami penurunan cukup signifikan sehingga berdampak pada penurunan tekanan distribusi, bahkan di beberapa wilayah layanan aliran air bisa terhenti,” terangnya. (jum/mof)

Editor : Arief
Kotabaru air bersih kemarau