Poltekkes Dampingi Ibu Olah Formula Ikan Haruan

Nurhidayat • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 12:30 WIB
FOTO BERSAMA: Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin berfoto bersama kader Posyandu, tenaga gizi Puskesmas Sungai Bilu, Tim Penggerak PKK, serta ibu balita usai pelaksanaan edukasi dan pelatihan pembuatan formula ikan haruan di Kampung Hijau Sungai Bilu, Kota Banjarmasin.
FOTO BERSAMA: Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin berfoto bersama kader Posyandu, tenaga gizi Puskesmas Sungai Bilu, Tim Penggerak PKK, serta ibu balita usai pelaksanaan edukasi dan pelatihan pembuatan formula ikan haruan di Kampung Hijau Sungai Bilu, Kota Banjarmasin. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin terus mendorong upaya penurunan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal. Salah satunya dengan mendampingi ibu balita mengolah formula berbahan dasar ikan haruan di Kampung Hijau Sungai Bilu, Kota Banjarmasin.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Perbaikan Status Gizi Stunting dengan Pemberian Modifikasi Formula Ikan Haruan di Kampung Hijau Sungai Bilu Kota Banjarmasin" tersebut menyasar kader Posyandu dan ibu yang memiliki balita stunting.

Kampung Hijau Sungai Bilu dipilih karena masih menghadapi persoalan stunting. Berdasarkan data Puskesmas Sungai Bilu pada Februari 2026, terdapat 34 balita stunting di wilayah yang memiliki empat Posyandu tersebut. Angka prevalensi stunting juga meningkat dari 5,25 persen pada 2025 menjadi 5,6 persen pada 2026.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Magdalena A., M.Kes., mengatakan kegiatan ini tidak hanya memberikan makanan tambahan, tetapi juga membekali keluarga dengan keterampilan mengolah pangan bergizi berbasis potensi lokal.

"Ikan haruan merupakan salah satu bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan memiliki potensi sebagai sumber protein. Karena itu, kami tidak hanya memberikan formula, tetapi juga mengedukasi dan melatih ibu agar mampu mengolahnya secara mandiri," ujarnya.

Tim pengabdian terdiri atas Magdalena A., M.Kes., Fathurrahman, SKM., M.Kes., Siti Mas'Odah, S.Pd., M.Gizi., Rahmani, S.TP., Dr. Endang Sri P. N., Ns., M.Kep., Sp.MB., Dr. Bahrul Ilmi, S.Pd., M.Kes., serta melibatkan empat mahasiswa Jurusan Gizi, yaitu Aisya Rahmadhani, Azkiya Putri Widayanti, Eka Nur Apriliana, dan Hannia Fredlina Adhimulya.

PRAKTIK: Peserta mengikuti pelatihan pembuatan formula ikan haruan berbahan pangan lokal yang dipandu Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
PRAKTIK: Peserta mengikuti pelatihan pembuatan formula ikan haruan berbahan pangan lokal yang dipandu Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

Selama enam hari, delapan balita stunting memperoleh formula ikan haruan setiap hari dengan pendampingan langsung dari tim. Selain itu, kegiatan juga meliputi edukasi pencegahan stunting kepada kader Posyandu, pelatihan pembuatan formula ikan haruan, serta pendampingan pemberian makanan kepada balita.

Hasil pemantauan menunjukkan perkembangan yang positif. Seluruh balita memiliki tingkat asupan makanan di atas 80 persen atau masuk kategori baik. Sebanyak enam balita (75 persen) mengalami kenaikan berat badan, satu balita memiliki berat badan tetap, dan satu balita mengalami penurunan. Sementara itu, empat balita (50 persen) mengalami pertambahan tinggi badan selama masa pendampingan.

Menurut Magdalena, keberhasilan penanganan stunting memerlukan intervensi yang berkelanjutan dengan melibatkan keluarga sebagai pelaku utama pemenuhan gizi anak.

"Perbaikan status gizi membutuhkan proses. Yang penting adalah adanya pendampingan, pemantauan asupan, serta keterlibatan aktif keluarga. Ibu harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menyiapkan makanan bergizi dengan bahan yang tersedia di lingkungan mereka," katanya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Sekretaris Lurah Sungai Bilu, tenaga gizi Puskesmas Sungai Bilu, Tim Penggerak PKK, kader Posyandu, dan para ibu balita.

Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin berharap pemanfaatan ikan haruan tidak hanya menjadi intervensi gizi jangka pendek, tetapi juga menjadi kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein anak melalui pangan lokal. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan keluarga diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting di Kota Banjarmasin.

Editor : Nurhidayat
dosen Poltekkes Kemenkes Banjarmasin banjarmasin mahasiswa pengabdian masyarakat