RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Solusi darurat untuk mengatasi dampak kematian massal ikan di keramba jaring apung (KJA) akhirnya disepakati. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III menyatakan siap membuka pintu air Bendungan Karang Intan selama dua pekan guna menambah debit Sungai Martapura yang terus menurun akibat musim kemarau.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan kualitas air sungai, menekan risiko kematian ikan susulan, sekaligus membantu mengatasi krisis air bersih yang sempat dirasakan sejumlah desa di sepanjang aliran Sungai Martapura.
Kesepakatan itu dicapai dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan empat komisi DPRD Kabupaten Banjar bersama BWS Kalimantan III, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), pemerintah daerah, camat, serta kepala desa terdampak di Ruang Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Banjar, Kamis (16/7/2026) petang.
BWS Tinggal Menunggu Rekomendasi
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Banjar Rahmat Saleh mengatakan, BWS pada prinsipnya telah menyatakan kesediaan membuka aliran air dari Bendungan Karang Intan. Namun, pelaksanaannya masih menunggu penyelesaian administrasi berupa surat rekomendasi dari DKPP Kabupaten Banjar.
"BWS sudah menyatakan siap membuka aliran sungai dan irigasi. Targetnya dua minggu ke depan setelah administrasi selesai," ujarnya usai rapat.
Menurut Rahmat, surat rekomendasi diperkirakan rampung dalam dua hingga tiga hari ke depan sebelum jadwal pembukaan pintu air ditetapkan.
"Sekarang tinggal penetapan jadwal. Surat rekomendasi sedang dirumuskan dan akan disampaikan melalui DKPP kepada BWS," katanya.
Pembukaan Diatur Bergiliran
Rahmat menjelaskan, pembukaan pintu air tidak dilakukan secara penuh. Mekanisme buka-tutup akan diterapkan agar kebutuhan air untuk sektor perikanan dan irigasi pertanian tetap terjaga.
"Teknis pembagiannya akan diatur. Yang terpenting hari ini BWS sudah menyatakan bersedia membuka aliran air," ungkapnya.
Ia mengakui pembahasan bersama BWS berlangsung cukup dinamis karena setiap kebijakan berkaitan langsung dengan kepentingan sektor lain, terutama pertanian.
Meski demikian, DPRD menilai langkah tersebut merupakan solusi tercepat yang dapat ditempuh untuk meningkatkan debit Sungai Martapura selama kondisi kemarau.
"Langkah darurat ini diharapkan mampu menambah debit air di kawasan terdampak sehingga dapat menekan risiko kematian ikan susulan sekaligus mempercepat pemulihan kondisi Sungai Martapura," harap Rahmat.
Pembudidaya Diminta Tunda Tebar Benih
Selain membahas penanganan darurat, DPRD juga mengevaluasi langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah daerah sebelum musim kemarau.
Rahmat mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima, DKPP Kabupaten Banjar sebenarnya telah mengingatkan para pembudidaya ikan sejak April 2026 mengenai potensi penurunan debit sungai.
Salah satu imbauannya ialah menunda penebaran benih ikan dalam jumlah besar agar kerugian tidak semakin besar apabila kondisi air kembali memburuk.
"Kami berharap masyarakat menunda penebaran benih dalam jumlah besar dulu. Risiko kerugiannya masih tinggi kalau kondisi air belum benar-benar stabil," jelasnya.
DPRD Minta Koordinasi Dipercepat
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar Hasan Hamdan menilai pembukaan pintu air Bendungan Karang Intan menjadi langkah paling cepat untuk meningkatkan debit Sungai Martapura di wilayah terdampak.
Karena itu, ia meminta koordinasi antara DKPP Kabupaten Banjar dan BWS Kalimantan III segera dituntaskan agar pembukaan aliran air tidak kembali tertunda.
"Yang kami kejar sekarang adalah koordinasi secepat-cepatnya antara DKPP dan BWS supaya aliran air bisa segera dibuka tanpa mengganggu sektor lainnya," katanya.
Hasan menambahkan, komunikasi antara pemerintah daerah dan BWS sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. DPRD kini ingin memastikan seluruh proses administrasi dipercepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat, khususnya para pembudidaya ikan.
"Harapan kami, setelah aliran air dibuka kondisi Sungai Martapura segera membaik sehingga kematian massal ikan tidak kembali terjadi dan masyarakat tidak lagi mengalami dampak seperti beberapa hari terakhir," pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno