RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tapin masih belum mereda. Hingga Jumat (17/7/2026) sore, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin mencatat masih terdapat 17 titik hotspot yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Meski demikian, upaya penanganan cepat berhasil mencegah meluasnya kebakaran di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Bungur. Lahan seluas sekitar satu hektare yang terbakar pada sore hari berhasil dipadamkan sebelum api menjalar ke kawasan sekitar.
Sebaran Hotspot Didominasi Lokpaikat
Kepala Pelaksana BPBD Tapin Muhammad Nor mengatakan, hotspot terbanyak berada di Kecamatan Lokpaikat dengan tujuh titik. Disusul Kecamatan Tapin Selatan sebanyak enam titik.
Sementara itu, Kecamatan Binuang terpantau memiliki dua titik hotspot. Adapun Kecamatan Bungur dan Salam Babaris masing-masing tercatat satu titik.
"Tim terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot serta berkoordinasi dengan seluruh unsur yang tergabung dalam posko gabungan," ujarnya.
Karhutla Satu Hektare Berhasil Dikendalikan
Selain memantau hotspot, BPBD Tapin juga menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Bungur, sekitar pukul 15.17 Wita.
Muhammad Nor menjelaskan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Area tersebut merupakan bekas tebangan pohon karet yang ditumbuhi semak belukar. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
"Tim TRC BPBD Tapin bersama Posko Gabungan langsung bergerak ke lokasi dan melakukan pemadaman menggunakan satu unit mobil tangki," katanya.
Berkat respons cepat petugas, kobaran api berhasil dikendalikan sehingga tidak sempat meluas ke lahan di sekitarnya.
"Untuk titik api sudah berhasil dipadamkan dan kondisi di lokasi saat ini aman terkendali," tegasnya.
Pemantauan Dilakukan Selama 24 Jam
Meski kondisi kebakaran di Bungur telah terkendali, BPBD Tapin tetap meningkatkan kewaspadaan karena masih adanya hotspot di sejumlah wilayah.
Melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB), pemantauan dilakukan selama 24 jam menggunakan radio komunikasi repeater VHF, pesan singkat, serta aplikasi WhatsApp.
Koordinasi juga terus dilakukan bersama BMKG, Sipongi, LAPAN, relawan, dan instansi terkait guna mempercepat respons apabila terjadi peningkatan potensi karhutla.
Muhammad Nor menginstruksikan seluruh personel Tim Reaksi Cepat (TRC), Satgas, dan operator Pusdalops-PB agar terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami karhutla maupun bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.
Setiap perkembangan di lapangan diminta segera dilaporkan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. (*)
Editor : M. Ramli Arisno