RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap mendapat perhatian serius dari manajemen Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Meski saat ini operasional penerbangan dipastikan masih berjalan normal, sejumlah langkah taktis dan skenario darurat mulai disiapkan demi menjamin keselamatan penumpang.
General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan titik panas (hotspot) di sekitar kawasan bandara. "Sejauh ini (operasional bandara) kita masih running normal," ujarnya.
Sebagai langkah awal pencegahan, internal manajemen telah menyiagakan unit khusus Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF). Unit pemadam kebakaran internal bandara ini ditugaskan khusus untuk menangani dan melokalisasi jika ditemukan adanya titik api di dalam maupun di sekitar lingkungan perimeter bandara.
Kendati demikian, manajemen tidak mau kecolongan jika kabut asap pekat mulai mengganggu jarak pandang (visibility) pilot saat lepas landas maupun mendarat. Skenario pengalihan penerbangan (divert) pun sudah masuk dalam rencana kontingensi.
"Apabila memang nanti tidak bisa melakukan kegiatan operasional, maka kami akan melakukan koordinasi dengan bandara-bandara sekitar untuk melakukan apakah bisa mereka menjadi alternate (bandara alternatif) bagi Bandara Syamsudin Noor," jelas Millyas.
Ia juga mengimbau dan mengetuk kesadaran warga yang tinggal di sekitar kawasan bandara untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dengan alasan apa pun. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat dalam melaporkan kemunculan asap sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah api membesar.
"Jadi ini memang menjadi concern bersama. Mari kita upayakan sama-sama untuk bisa menjaga agar tidak terjadi adanya karhutla di sekitar Bandara Syamsudin Noor," cetusnya.
Sementara itu, sekitar 25 hektare lahan terbakar di wilayah Kota Banjarbaru. Akibat karhutla sejak awal musim kemarau 2026. Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat, luasan lahan terbakar terbesar berada di Kecamatan Cempaka.
Meski jumlah kejadian belum mengalami peningkatan signifikan, BPBD meningkatkan kesiapsiagaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang sehingga berpotensi meningkatkan risiko karhutla.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Banjarbaru, Harun Arrasyid mengatakan, hingga saat ini tren karhutla di Banjarbaru masih relatif sama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Dari data yang kami himpun, kurang lebih 25 hektare lahan sudah terbakar, dengan luasan paling besar berada di daerah Cempaka," bebernya.
Menurutnya, cuaca panas yang diperkirakan berlangsung lebih lama membuat potensi kebakaran tetap harus diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
“Hingga kini, jumlah kejadian karhutla masih cenderung datar, meski demikian kami tetap memperkuat langkah mitigasi dengan meningkatkan piket personel, serta mempererat koordinasi dengan BPBD Provinsi Kalsel agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi kebakaran,” katanya.
Ia mengatakan, penetapan status karhutla di Kota Banjarbaru masih menunggu hasil rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menyamakan langkah penanganan dengan pemerintah daerah lain di Kalimantan Selatan.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief