Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Debit Waduk Riam Kanan Turun, Pembudidaya Ikan Mulai Khawatir

M Fadlan Zakiri • Senin, 6 Juli 2026 | 20:37 WIB

WADUK RIAM KANAN: Surat resmi PLN Indonesia Power menyatakan operasional PLTA Ir. P.M. Noor disesuaikan menjadi satu unit turbin 5 MW mulai 1 Juli 2026 akibat penurunan debit air Waduk Riam Kanan selama musim kemarau. (Foto: Zakir/Radar Banjarmasin)
WADUK RIAM KANAN: Surat resmi PLN Indonesia Power menyatakan operasional PLTA Ir. P.M. Noor disesuaikan menjadi satu unit turbin 5 MW mulai 1 Juli 2026 akibat penurunan debit air Waduk Riam Kanan selama musim kemarau. (Foto: Zakir/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Penurunan debit air Waduk Riam Kanan akibat musim kemarau membuat PLN Indonesia Power menyesuaikan pola operasi PLTA Ir. P.M. Noor. Mulai 1 Juli 2026, pembangkit hanya dioperasikan menggunakan satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt (MW) saat Tinggi Muka Air (TMA) mencapai 57,00 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat resmi PLN Indonesia Power UBP Barito Nomor 0384/STH.01.03/PLNIP220000/2026 tertanggal 23 Juni 2026. Saat surat diterbitkan, TMA Waduk Riam Kanan tercatat berada di level 57,58 mdpl.

Dalam surat itu dijelaskan, penyesuaian dilakukan karena waduk memasuki musim kemarau, debit air masuk (inflow) terus menurun, serta untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan di wilayah hilir PLTA Ir. P.M. Noor.

Manager ULPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, menegaskan penyesuaian tersebut merupakan prosedur rutin saat musim kemarau.

"Jadi bukan terganggu. Sesuai informasi BMKG, saat ini sudah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya inflow atau debit air yang masuk ke waduk. Agar aliran air di hilir tetap terjaga hingga memasuki musim penghujan, dilakukan pengaturan beban melalui pengoperasian satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt sejak 1 Juli 2026, ketika Tinggi Muka Air mencapai 57,00 mdpl," jelasnya.

Ia juga menegaskan kebijakan tersebut bukan menjadi penyebab utama pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini.

DKPP Imbau Pembudidaya Waspada

Penurunan debit air turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Banjar. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), para pembudidaya ikan diminta segera mengantisipasi perubahan kondisi perairan.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan penyesuaian operasi PLTA berpotensi memengaruhi kualitas air yang digunakan untuk budidaya.

"Kami mengimbau seluruh pembudidaya ikan, baik di kolam maupun Keramba Jaring Apung (KJA), agar segera mengantisipasi potensi penurunan debit air Waduk Riam Kanan," ujarnya.

Menurut Bandi, penurunan debit air dapat menurunkan kadar oksigen terlarut, mengubah kualitas air, hingga meningkatkan risiko kematian ikan apabila tidak diantisipasi.

Karena itu, pembudidaya diminta mengurangi kepadatan tebar ikan, menambah aerator atau pompa air, rutin memantau kualitas air serta kesehatan ikan, dan menyiapkan kolam atau embung sebagai cadangan air.

Ia juga meminta pembudidaya segera berkoordinasi dengan penyuluh perikanan atau DKPP Kabupaten Banjar apabila menghadapi kendala di lapangan.

"Yang terpenting, pembudidaya tidak menunda langkah antisipasi agar risiko kematian ikan akibat perubahan kualitas air dapat diminimalkan," pungkasnya.

Pembudidaya Mulai Khawatir

Kondisi penurunan debit air mulai dirasakan pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) di Kecamatan Aranio.

Salah seorang pembudidaya di Desa Tambela, Iwan Hadruni, mengaku baru mengetahui adanya penyesuaian operasi PLTA dari informasi yang beredar di masyarakat. Meski demikian, ia telah melihat permukaan air sungai turun lebih dari dua jengkal dibandingkan kondisi normal.

"Awalnya saya tidak tahu ada pengumuman itu. Tapi memang beberapa hari ini air sudah turun, bahkan lebih dari dua jengkal. Bekas air di tebing sungai masih kelihatan," ujarnya.

Menurut Iwan, para pembudidaya mulai khawatir karena penurunan debit air berpotensi menurunkan kadar oksigen yang dibutuhkan ikan.

Ia juga mengaku menerima informasi adanya kematian bibit ikan milik salah seorang pembudidaya di Kecamatan Karang Intan beberapa hari lalu.

"Kami khawatir kalau air terus surut, kadar oksigen ikut turun. Kalau itu terjadi, ikan bisa stres bahkan mati. Apalagi sudah ada kabar bibit ikan di Karang Intan yang mati mendadak beberapa hari lalu," katanya.

Meski belum mengalami kematian ikan, Iwan kini lebih rutin memantau kondisi air dan perilaku ikan sebagai langkah antisipasi. Ia berharap debit air segera kembali normal agar aktivitas budidaya tidak terganggu. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#PLTA Ir. P.M. Noor #debit air waduk #pembudidaya ikan Banjar #musim kemarau Banjar #waduk riam kanan