RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Desa Hiyung di Kecamatan Tapin Tengah selama ini dikenal sebagai sentra cabai Hiyung. Namun, kini desa tersebut mulai memiliki potensi komoditas baru. Tanaman kopi robusta yang dibudidayakan di lahan rawa terbukti mampu tumbuh subur dan mulai menghasilkan buah.
Keberhasilan itu dibuktikan Budiannor atau Budi, warga Desa Hiyung, yang mulai menanam kopi robusta di lahan rawa pada April 2024. Setelah sekitar 19 bulan perawatan, tanaman tersebut mulai dipanen pada November 2025.
"Awalnya saya tanam sekitar 350 pohon. Alhamdulillah sampai sekarang sekitar 320 pohon berhasil hidup dan semuanya sudah berbuah," ujar Budi, Minggu (28/6/2026).
Dari total tanaman yang bertahan, sebagian buah sudah dipanen, sedangkan sisanya masih menunggu matang sempurna. Berdasarkan perhitungan sementara, setiap pohon berpotensi menghasilkan hingga satu kilogram buah kopi.
Seluruh hasil panen itu rencananya akan dipasarkan sebagai komoditas baru asal Desa Hiyung.
Kopi Robusta Adaptif di Lahan Rawa
Budi menilai budidaya kopi robusta di lahan rawa tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Tantangan terbesar justru muncul saat musim kemarau karena ketersediaan air mulai berkurang.
"Kalau perawatannya sebenarnya tidak susah. Cuma saat kemarau seperti sekarang ini air mulai kering. Di sini juga tidak ada pepohonan tinggi, sehingga unsur kapur di lahan masih kurang," katanya.
Melihat hasil yang cukup menjanjikan, Budi berencana memperluas areal tanam apabila tersedia lahan tambahan.
"Kalau ada lahannya tentu ingin dikembangkan lagi. Potensinya cukup bagus," ucap pria berusia 32 tahun tersebut.
Selain robusta, ia juga mulai mengembangkan kopi liberika sebanyak 100 pohon. Varietas itu ditanam dengan sistem tumpang sari bersama cabai Hiyung sebagai solusi atas keterbatasan lahan.
"Kami juga menanam kopi liberika sebanyak 100 pohon. Karena lahannya terbatas, kami tanam tumpang sari dengan cabai Hiyung. Umur tanam liberika dan robusta berbeda sekitar satu tahun," jelasnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa lahan rawa tidak hanya produktif untuk cabai, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai kawasan perkebunan kopi. Inovasi itu membuka peluang lahirnya komoditas baru yang dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat Desa Hiyung. (*)
Editor : M. Ramli Arisno