RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Aroma harum rempah langsung menyeruak saat memasuki kawasan Komplek Rifalina, Jalan Sukamara, Landasan Ulin, Banjarbaru sejak pagi, Kamis (25/6).
Sejumlah ibu-ibu tampak sibuk memotong sayur dan bahan makanan lainnya sementara sebagian lainnya bergantian memegang pengaduk kayu berukuran besar di atas kuali yang mengepul.
Aktivitas ini merupakan tradisi tahunan pembuatan Bubur Asyura yang digelar setiap tanggal 10 Muharram.
Berbeda dengan memasak pada umumnya, kuliner khas Banjar ini melibatkan puluhan jenis bahan dasar mulai dari sayuran, umbi-umbian, hingga kacang-kacangan.
Seluruh bahan tersebut dikumpulkan secara swadaya dari sumbangan sukarela warga setempat.
"Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap sepuluh Muharram. Bahannya murni swadaya dari warga. Lewat momen ini, warga yang biasanya sibuk kerja bisa berkumpul, mengaduk sama-sama, dan nanti dibagikan ke semua tetangga," ujar Maria, warga setempat yang rumahnya dijadikan pusat pembuatan bubur.
Proses pengadukan yang memakan waktu hingga berjam-jam di atas tungku api menjadi simbol kebersamaan dan kesabaran warga.
"Tahun ini kami memperkirakan dapat 100-300 cup bubur Asyura dari 5 kilo beras yang diolah," ungkapnya.
Di tengah gempuran modernisasi perkotaan, kearifan lokal ini sengaja dipertahankan sebagai perekat sosial dan ajang silaturahmi antar-tetangga yang efektif.
"Ya memperingati 10 muharram juga memeperkuat silaturahmi," tandasnya.
Menjelang siang hari, ratusan porsi Bubur Asyura yang telah matang langsung dikemas.
Tak hanya dibagikan secara merata kepada seluruh warga komplek dan keluarga terdekat untuk menu berbuka puasa sunah Asyura.
Melalui aksi gotong royong ini, warga berharap nilai-nilai kepedulian sosial dan kebersamaan di lingkungan tempat tinggal dapat terus terjaga secara turun-temurun.
Kesibukan urban terbukti tidak melunturkan kekompakan warga Banjarbaru ini dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Editor : Arif Subekti