Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tanam 6 Bulan Langsung Panen ! Porang Jadi Ladang Cuan Baru Petani Batola

Maulana Radar Banjarmasin • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51 WIB
BUDI DAYA: Koordinator Sosialisasi Porang Banua Kabupaten Batola, Sugianor memperlihatkan umbi porang hasil budi dayanya di Desa Danau Karya, Kecamatan Anjir Pasar. Tanaman bernilai ekonomi tinggi tersebut mulai dikembangkan sebagai komoditas unggulan baru di Kabupaten Barito Kuala.
BUDI DAYA: Koordinator Sosialisasi Porang Banua Kabupaten Batola, Sugianor memperlihatkan umbi porang hasil budi dayanya di Desa Danau Karya, Kecamatan Anjir Pasar. Tanaman bernilai ekonomi tinggi tersebut mulai dikembangkan sebagai komoditas unggulan baru di Kabupaten Barito Kuala.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARABAHAN – Tanaman porang mulai mencuri perhatian petani di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan. Komoditas yang dikenal bernilai ekonomi tinggi ini dinilai memiliki prospek cerah karena mudah dibudi dayakan, tahan terhadap gangguan hama, dan bisa dipanen hanya dalam waktu sekitar enam hingga tujuh bulan.

Koordinator Sosialisasi Porang Banua Kabupaten Batola sekaligus petani porang, Sugianor, mengatakan porang dapat dipanen pada usia enam hingga tujuh bulan setelah tanam.

“Kalau ditanam sekitar akhir September atau awal Oktober, panennya bisa dilakukan pada Mei. Rata-rata satu batang menghasilkan umbi seberat 2,5 hingga 3 kilogram,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Prospek porang di Batola mulai terlihat dari hasil panen perdana pada Mei 2026. Total produksi mencapai sekitar tujuh ton. Dari lahan milik Sugianor di Desa Danau Karya, Kecamatan Anjir Pasar, berhasil dipanen sekitar 2,4 ton umbi porang.


Sugianor mengungkapkan, budi daya porang pertama kali ia kembangkan di Kabupaten Banjar pada 2021. Melihat peluang pasar yang terus meningkat, pengembangan kemudian diperluas ke Batola sejak 2025, tepatnya di Desa Waringin Kencana dan Desa Surya Kanta, Kecamatan Wanaraya, serta Desa Danau Karya, Kecamatan Anjir Pasar.

Meski potensinya besar, jumlah petani porang di Batola masih tergolong sedikit. Saat ini budi daya porang baru berkembang di tiga desa.

“Harapannya semakin banyak masyarakat yang tertarik menanam porang karena peluangnya masih sangat terbuka,” katanya.

Seiring meningkatnya minat masyarakat, luas lahan pembibitan yang dikelola kini mencapai sekitar empat hektare. Dalam satu hektare lahan, petani dapat menanam hingga 50 ribu batang porang dengan jarak tanam sekitar 40 sentimeter.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan sekitar 250 kilogram katak porang atau sekitar 50 ribu butir benih. Harga benih saat ini mencapai Rp160 ribu per kilogram dengan isi rata-rata 200 butir.

Di sisi lain, harga jual umbi porang di tingkat petani mencapai Rp11.700 per kilogram. Pasarnya pun mulai terbuka dengan hadirnya pembeli dari wilayah Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.

Salah satu keunggulan porang adalah minim serangan hama. Umbinya yang menimbulkan rasa gatal membuat tikus, babi hingga monyet enggan merusak tanaman tersebut.

“Hama yang biasa menyerang hanya siput atau bekicot. Kalau penyakit ada fusarium, tetapi jumlahnya sangat sedikit, bahkan tidak sampai satu persen dari total tanaman,” jelas Sugianor.

Ia menambahkan, porang sangat cocok dikembangkan di Kalimantan Selatan karena menyukai kondisi lembap dan curah hujan tinggi. Bahkan daerah ini telah memiliki varietas unggulan yang sudah dilepas secara resmi, yakni Banjar Bungas, dengan kandungan glukomanan yang tinggi.

Glukomanan merupakan bahan baku penting untuk berbagai industri. Setelah diolah menjadi tepung, porang dapat dimanfaatkan untuk membuat mi shirataki, beras rendah gula bagi penderita diabetes, roti, bakso hingga berbagai makanan ringan. Selain itu, porang juga digunakan dalam industri kosmetik dan produk turunannya.


Menurut Sugianor, porang pada dasarnya merupakan komoditas ekspor dengan permintaan yang terus meningkat. Kehadiran pabrik pengolahan tepung glukomanan di Bati-Bati juga menjadi angin segar bagi petani karena mempermudah proses pemasaran hasil panen.

Optimisme pun terus tumbuh. Jika produksi porang Batola pada 2026 masih sekitar tujuh ton, Sugianor menargetkan hasil panen pada Mei 2027 bisa melonjak hingga 100 ton.

“Dengan semakin luasnya areal tanam dan bertambahnya petani yang membudi dayakan porang, kami optimistis target produksi 100 ton tahun depan bisa tercapai,” pungkasnya.

 

Editor : Eddy Hardiyanto
#Porang #petani #Batola #panen