RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Tradisi Baayun Maulid yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tapin kini hadir dalam balutan kain sasirangan. Melalui sentuhan kreativitas para desainer lokal, warisan budaya tersebut diterjemahkan menjadi motif yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna.
Motif Gerbang Ayunan Maulid akhirnya dinobatkan sebagai karya terbaik dalam Lomba Desain Motif Sasirangan Kabupaten Tapin yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin.
Lomba yang mengangkat tema “Tradisi dan Seni Khas Kabupaten Tapin: Motif Ayunan Maulid” tersebut menjadi wadah bagi para desainer untuk mengangkat identitas budaya daerah ke dalam karya sasirangan yang modern namun tetap berakar pada kearifan lokal.
Ketua TP PKK Tapin Hj Faridah yang juga menjadi salah satu dewan juri mengatakan, penentuan pemenang dilakukan melalui proses penilaian yang cukup ketat. Dari puluhan desain yang masuk, motif Gerbang Ayunan Maulid dinilai paling mampu menggambarkan karakter dan kekayaan budaya Kabupaten Tapin.
“Motif ini memadukan unsur Ayunan Maulid dengan ikon-ikon daerah seperti Bundaran Sirang Pitu dan Bundaran Dulang Rantau. Perpaduannya sangat kuat dalam merepresentasikan identitas Tapin,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Tidak hanya meraih gelar desain terbaik, motif tersebut juga mendapat kehormatan untuk digunakan sebagai motif pakaian resmi pada peringatan Hari Jadi ke-61 Kabupaten Tapin mendatang.
Menurut Hj Faridah, tema Ayunan Maulid dipilih karena memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat dekat dengan masyarakat Tapin, khususnya Banua Halat. Tradisi Baayun Maulid yang digelar setiap bulan Rabiul Awal telah menjadi agenda budaya dan keagamaan yang dikenal luas hingga ke luar Kalimantan Selatan.
“Baayun Maulid bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari identitas masyarakat Tapin yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu kami ingin nilai-nilai tersebut juga hadir dalam motif sasirangan khas daerah,” katanya.
Tradisi yang setiap tahunnya mampu menarik puluhan ribu peserta dari berbagai daerah di Kalimantan hingga Pulau Jawa tersebut menjadi inspirasi utama para peserta lomba dalam menuangkan ide ke atas lembaran kain.
Melalui karya yang terpilih, Pemerintah Kabupaten Tapin berharap sasirangan tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga media promosi budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Lomba desain motif sasirangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal, mendorong lahirnya kreativitas baru di kalangan perajin dan desainer, serta memperkuat posisi sasirangan sebagai salah satu identitas budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Tapin.
Dengan terpilihnya motif Gerbang Ayunan Maulid sebagai desain terbaik, sebuah tradisi yang selama ini hidup di tengah masyarakat kini akan hadir dalam bentuk yang berbeda—menjadi simbol kebanggaan daerah yang dikenakan pada momentum penting Hari Jadi Kabupaten Tapin ke-61.
Editor : Arif Subekti